Wednesday, May 6, 2026

Menjadi Seorang Ibu

Semuanya dimulai dari masa kehamilan yang saya jalani dengan penuh kesadaran dan persiapan. Jauh sebelum menikah, saya sudah mempersiapkan diri. Saya rajin membaca, mengikuti seminar parenting, bahkan sempat beberapa kali menghadiri pertemuan “Rangkul” di tahun 2017. Sebelum melahirkan pun, saya dan suami mengikuti baby class dengan tekun. Saya pikir, bekal teori ini akan menjadi perisai kuat saat praktik tiba.

Ternyata, semua teori itu terasa hanya teori.

Ketika saya benar-benar menjadi ibu untuk pertama kalinya, semua ilmu yang saya miliki lenyap tertelan oleh rasa takut yang entah dari mana sumbernya. Setiap tindakan yang saya ambil, meskipun saya tahu itu benar dan sesuai buku, selalu diselimuti rasa cemas. Saya takut salah menggendong, takut salah menyusui, takut salah mendiamkan.

Namun jauh sebelum sampai ke masa itu, perjalanan menuju persalinan sendiri sudah penuh kecemasan.

~**~

Pertama kali saya mendapat kontraksi palsu di usia kehamilan 36 minggu. Saat itu, selepas isya, saya sendirian di rumah karena suami saya ada urusan di luar. Saya langsung meminta dia pulang karena saya pikir saya akan melahirkan. Sejak selepas isya sampai subuh saya tidak bisa tidur karena rasa sakit yang datang dan pergi. Dalam kondisi itu saya meminta bantuan teman saya yang juga seorang bidan untuk memeriksa apakah sudah ada pembukaan. Ternyata belum ada pembukaan sama sekali. Katanya itu baru kontraksi palsu.

Dalam hati saya berpikir, kalau kontraksi palsu saja sudah seperti ini sakitnya, bagaimana nanti kontraksi yang asli dan proses bersalinnya. Pikiran itu terus berputar dan membuat saya cemas.

Beberapa hari setelah itu saya masih merasakan kontraksi palsu, lalu memasuki usia kehamilan 37 sampai 39 minggu tidak ada kontraksi sama sekali. Tidak ada tanda apa pun. Hanya penantian yang panjang dan sunyi.

USG terakhir saya dilakukan saat usia kehamilan sudah masuk 39 minggu. Dokter menanyakan kepada saya maunya bagaimana, dan mengatakan jika ingin operasi caesar karena usia kehamilan sudah cukup, tinggal dibuatkan surat saja. Saya masih kekeh ingin melahirkan normal. Dokter pun mengiyakan keputusan saya, dan saya diminta menunggu sampai tanggal 8 Desember. Jika belum juga ada kontraksi, akan diambil tindakan.

Sejak saat itu saya menjalani hari-hari dengan cemas. Saya terus berkomunikasi dengan bayi dalam perut saya, berharap ia segera memberi tanda untuk lahir. Setiap hari terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi sangat saya nantikan.

Sampai akhirnya Senin, 4 Desember 2023 datang.

Pukul 04.30 WITA waktu subuh, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kontraksi muncul dan hilang dengan jeda 1 sampai 2 jam. Hari itu seharusnya saya menemani suami ke RSUD Bali Mandara untuk mengambil jadwal operasi impaksi gigi, tetapi saya terpaksa tidak ikut karena takut kontraksi tiba-tiba.

Setiap kontraksi datang saya mengelus perut saya dan berkata ke bayi saya, “kalo mau lahiran hari ini aja yuk, mumpung baba cuti.”

Siang hari sekitar jam 12.00 wita suami saya pulang dari rumah sakit membawakan makan siang, tapi saya baru makan sekitar pukul 14.00 wita, di sela-sela kontraksi yang masih datang dan pergi. 

Setelah itu saya mulai merasa mengantuk, karena sejak hamil besar tidur sudah tidak pernah benar-benar nyaman dan pulas. Saya bilang ke suami mau istirahat dulu sebentar. Baru saja saya memejamkan mata, tiba-tiba terdengar seperti ada yang meletus dari jalan lahir saya, benar-benar seperti suara balon pecah.

Tidak lama setelah itu saya merasa seperti buang air kecil. Saya langsung buru-buru ke kamar mandi, dan saat itu saya melihat sudah ada air yang mengalir di betis saya bercampur sedikit darah. Ketika dicek, benar saja sudah berdarah.

Saya berusaha tetap tenang, lalu langsung menelpon teman saya yang bidan. Dari cerita saya tentang suara seperti meletus dan air bercampur darah yang keluar, dia menyarankan untuk segera ke rumah sakit karena kemungkinan ketuban sudah pecah.

Saya pun bergegas menuju rumah sakit dengan barang bawaan yang tidak terlalu banyak. Tapi karena naik motor dalam keadaan hamil besar dan membawa barang, semuanya terasa cukup ribet dan penuh. Di perjalanan saya berusaha menahan sakit dengan mengatur napas setiap kali kontraksi datang. Segala yang sudah saya pelajari di kelas prenatal yoga saat itu benar-benar terpakai.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung dibawa ke ruang observasi. Setelah diperiksa, ternyata baru bukaan 3. Bidan mengobservasi selama satu jam, jika bukaan tidak bertambah maka saya akan dipulangkan.

Setelah satu jam, sekitar pukul 6 sore, alhamdulillah bukaan saya bertambah menjadi 4. Semakin naik bukaan, semakin intens kontraksi yang muncul. Saya masih terus berusaha mengatur napas dan mengingat semua yang sudah saya pelajari di kelas prenatal yoga, dan saat itu saya masih bisa cukup tenang.

Namun ketika bukaan semakin naik, tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk mengejan sendiri. Sementara bidan mengatakan saya belum boleh mengejan kalau bukaan belum lengkap. Saya benar-benar berusaha menahan agar tidak mengejan, meskipun rasanya sangat sulit.

Sampai akhirnya, bukaan lengkap di pukul 20.30 wita. Suami saya segera memanggil bidan. Bidan sempat agak kaget karena proses bukaan saya cukup cepat untuk anak pertama—awalnya diprediksi baru akan melahirkan tengah malam atau dini hari.

Setelah semua persiapan selesai, saya diminta untuk mengejan. Alhamdulillah, hanya dengan satu kali tarikan napas, anak saya meluncur keluar dan langsung menangis, dengan tali pusar yang terlilit seperti mengenakan selempang miss universe.

Seketika itu juga semua rasa sakit yang begitu hebat hilang saat bayi saya keluar dari perut. Anak saya kemudian langsung dibawa oleh bidan untuk dibersihkan, sementara saya dilanjutkan dengan proses jahit sampai selesai.

                                                        ~**~

Prosesnya selesai. Bayi saya sudah lahir. Saya dan suami menyaksikan tangisan haru, momen ajaib yang sering diceritakan di film-film. Tapi air mata yang keluar bukan air mata kebahagiaan yang meluap. Justru yang saya rasakan adalah sesuatu yang asing: sebuah kekosongan aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Dua jam setelah melahirkan, saya memberanikan diri bicara dengan suami. “Perasaan saya aneh,” kata saya. “Saya melihat anak kita, tapi tidak ada perasaan yang orang-orang ceritakan. Semuanya terasa hampa.” Itu adalah pengakuan yang sulit, tetapi dia mendengarkan.

Kami pulang dari rumah sakit, dan realita langsung menghantam. Suami harus segera kembali bekerja. Di rumah, hanya ada saya dan ibu mertua. Masalahnya, ibu mertua tidak berani memegang atau mengurus bayi baru lahir. Jadi sejak hari pertama, saya benar-benar mengurus bayi ini sendirian—mulai dari memandikan, mengganti popok, hingga begadang. Ibu mertua membantu urusan rumah tangga, dan itu pun hanya berlangsung  seminggu.

Di tengah kelelahan fisik, jahitan belum kering dan masih berdarah-darah, kesulitan terbesar adalah menyusui. Anak saya tidak mau direct breastfeeding (DBF). ASI baru keluar setelah hari ketiga, dan itu pun harus dengan bantuan pumping. Tekanan semakin menjadi-jadi karena pertanyaan dari luar: “ASInya sudah banyak?”, “Cukup tidak susunya?” Rasanya seperti saya sedang dihakimi atas sesuatu yang sangat sulit saya kendalikan.

Tiga bulan pertama adalah masa yang gelap. Kekosongan itu masih terus ada, selalu siap memicu tangisan tanpa sebab. Saya sering menangis tanpa tahu apa yang saya tangisi. Saya tahu ini tidak ideal, tapi saya tidak tahu bagaimana menghentikannya.

Baru setelah anak saya menginjak usia tiga bulan, saya mulai merasakan koneksi yang nyata. Perasaan sayang itu akhirnya datang, perlahan, tidak instan. Seperti hadiah yang terlambat.

Dalam kekacauan emosional dan fisik itu, saya beruntung memiliki suami yang sangat suportif. Dia selalu siaga. Ketika anak bangun malam, dia ikut terbangun. Dia tidak pernah membiarkan saya berjuang sendirian. Meskipun besok harus bekerja pagi, dia tetap membantu mengganti popok atau menggendong. Dukungan nyata seperti itu adalah alasan saya bisa melewati tiga bulan pertama yang gelap.

Menyadari kondisi saya, suami juga sering mendorong saya untuk keluar rumah di akhir pekan atau hari libur. Saat anak baru dua bulan, dia bahkan menyuruh saya menonton film sendiri. Saya pergi menonton film Agak Laen, meninggalkan bayi bersama suami dengan sudah menyiapkan stok ASIP.

Sepulang dari bioskop, saya merasa sedikit lebih ringan. Bahkan ASI saya terasa lebih lancar setelah itu. Tapi masalah tidak berhenti di situ. ASI yang deras justru membuat payudara saya sering bengkak, keras, bahkan kadang disertai demam ringan. Rasanya tubuh saya terus diuji dari berbagai sisi.

Jauh sebelum menikah, kami memang sudah memutuskan untuk menunda kehamilan karena sadar bahwa memiliki anak adalah perjalanan yang berat. Kami sudah berdiskusi, membaca, dan merencanakan. Tapi tidak ada satu pun teori yang benar-benar bisa menggambarkan beratnya realita ini.

Rasa lelah, kosong, cemas, ditambah nyeri fisik menyusui adalah babak yang harus saya lewati. Tapi perlahan, dengan dukungan suami dan hadirnya senyum kecil anak saya, saya mulai melihat jalan keluar dari kegelapan itu. Ini bukan akhir yang manis, tapi awal yang jujur dan diperjuangkan.

Di tengah semua itu, tanggung jawab sebagai ibu tetap berjalan. Saya memaksakan diri untuk stimulasi, membaca buku, mencari ide sesuai usia anak, memastikan milestone tercapai. Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, MPASI, semua saya pelajari lewat Buku KIA , aplikasi parenting, bahkan podcast dengan narasumber para expert dibidang parenting, dokter, psikolog bahkan ustad, seolah saya harus menjadi ibu yang sempurna dalam data dan fakta.

~**~

Namun di balik semua itu, saya mulai sadar bahwa kekosongan yang saya rasakan sejak awal mungkin adalah pintu terbukanya inner child saya. Saya mudah ter-trigger oleh hal-hal kecil dari anak saya, hal yang sebenarnya sepele tapi cukup untuk mengguncang emosi saya. Saya berjanji tidak ingin mengulang pola asuh masa lalu, tapi justru menyadari saya kadang tanpa sadar mulai mengulangnya.

Mengasuh anak sambil membawa luka masa kecil ternyata sesulit itu. Kadang saya merasa ingin menyerah, karena beban untuk menjadi ibu yang lebih baik terasa sangat berat.

Tapi anak saya begitu berharga. Tatapan polosnya selalu mengingatkan saya untuk terus berjuang. Saya tidak menyalahkan orang tua saya, tapi saya harus mencari cara untuk menyembuhkan diri agar tidak menurunkan luka itu ke anak saya.

Sekarang anak saya sudah dua tahun setengah. Perjalanan ini masih panjang. Setiap hari selalu ada tantangan baru.

Dua tahun ini terasa seperti seperempat abad. Dari kehampaan, kesulitan menyusui, kecemasan, sampai akhirnya perlahan menemukan cinta yang tumbuh pelan tapi kuat.

Saya belajar bahwa cinta keibuan tidak selalu datang secara instan, tapi ada harus  dibangun lewat tindakan kecil sehari-hari: begadang, pumping, membaca di tengah lelah, dan kehadiran suami yang tidak pernah pergi.

Kini saya tahu, saya adalah ibu yang sedang berproses. Dan itu tidak membuat saya menjadi ibu yang buruk.

Kalau saya bisa bicara pada diri saya dua tahun lalu, saya akan berkata: tidak apa-apa jika kamu belum merasakan apa-apa sekarang. Pelan-pelan, semuanya akan tumbuh. Kamu akan melewatinya.

Dan untuk suamiku, terima kasih karena selalu menjadi jangkar. Terima kasih karena tidak pernah membiarkan saya berjalan sendiri. Kamu adalah support system terbaik dalam perjalanan ini.

Monday, March 23, 2026

​Membangun Memori dalam Toples Kue: Catatan Lebaran Kali Ini

Lebaran kali ini terasa berbeda. Mungkin bukan hanya hari rayanya, tapi sejak awal Ramadan pun suasananya sudah tak sama. Tahun ini, saya kembali menjalankan ibadah puasa setelah masa menyusui selesai. Di saat yang sama, saya pun telah kembali ke dunia kerja. Kesibukan di lingkungan baru yang mayoritas non-muslim membuat vibes Ramadan kali ini tidak terlalu kental terasa—entah hanya perasaan saya saja atau memang begitu adanya.


​Namun, ada hal lain yang membuat tahun ini jauh lebih bermakna.


​Selama beberapa tahun terakhir, saya kehilangan rasa antusias dalam menyambut Idulfitri. Saya masih terlarut dalam kesedihan atas berpulangnya Ibu dan Kakak pertama. Bayang-bayang kehilangan itu seolah menutup kegembiraan hari raya. Tapi entah mengapa, tahun ini memori masa kecil bersama keluarga justru bangkit kembali dengan begitu hangat.


​Saya ingat betul bagaimana dulu kami sekeluarga berkumpul mengeroyok tumpukan kacang tanah yang sudah direndam air panas. Saya, Bapak, dan kakak-kakak sibuk mengupas kulit arinya, sementara Ibu yang bertugas menggorengnya dengan irisan bawang putih yang harum. Kegiatan itu sangat melelahkan, bisa memakan waktu seharian penuh.


​Ada juga kenangan membuat kue ketapang; Ibu yang menyiapkan adonan, lalu kami bergantian memulung dan mengguntingnya. Mengingat itu semua sekarang membawa rasa hangat di hati. Memori-memori sederhana itulah yang kemudian membuat saya terpikir tentang anak saya, Jema.


​Saya ingin Jema punya kenangan berharga yang bisa ia simpan selaksa saya sudah tidak ada nanti. Saya ingin dia merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan dulu. Akhirnya, tahun ini saya memutuskan untuk membuat kue Lebaran sendiri untuk dinikmati di rumah.


​Meski harus menunggu hari libur kerja tiba, Jema yang baru berusia 27 bulan ternyata sangat bersemangat. Kami tidak membuat banyak macam, hanya palm cheese cookies kesukaannya dan brownies crispy. Jema benar-benar terlibat dalam setiap prosesnya. Dia ikut menuangkan bahan sesuai instruksi, memperhatikan saya mengaduk, lalu dengan telaten membantu membalurkan bulatan adonan ke dalam gula palem dan menyusunnya di atas loyang. Saat membuat brownies crispy pun, jemari kecilnya sibuk menaburkan sprinkle di atas adonan.


​Saya melihat binar bahagia di matanya. Mungkin itulah yang saya rasakan dulu; meski lelah duduk seharian, proses itu menjadi memori yang sangat indah saat semuanya kini sudah tak lagi sama.


​Tahun ini, Idulfitri saya terasa memiliki tujuan yang lebih dalam: menciptakan momen keluarga untuk Jema. Saya tidak tahu apakah dia akan mengingat detail kejadian ini saat dewasa nanti, tapi saya yakin perasaan bahagia itu terekam kuat di alam bawah sadarnya.


​Terima kasih, Jema, sudah hadir dan membuat hari-hari Ibu menjadi jauh lebih berarti dan lebih baik.

Tuesday, December 30, 2025

Memorabilia Dinding

Setiap kali aku berdiri di ambang pintu yang akan segera kukunci untuk terakhir kalinya, ada debar yang tidak pernah berubah. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di dada, tak kasat mata, tak terbahasakan, namun selalu ada. Seolah-olah ada akar di bawah kakiku yang dipaksa lepas sebelum ia sempat menghunjam dalam ke bumi.
​Mungkin ini adalah kutukan atau sekadar kebiasaan. Sejak kecil, hidupku adalah tentang berpindah; tentang koper-koper yang tak pernah benar-benar kosong dan perpisahan yang menjadi kawan akrab. Namun anehnya, meski aku tahu aku tak bisa berlama-lama di satu tempat, rasa sesak ini tetap datang dengan intensitas yang sama. Persis, tak ada yang berubah.
​Namun, setiap perpisahan selalu terasa berat.
​Persinggahan ini bukan sekadar atap. Ia adalah saksi bisu dari sebuah keajaiban. Di sinilah, sejak hari ketiga kelahirannya, buah hatiku mulai menghirup dunia. Dinding-dinding ini telah merekam tangis pertamanya yang memecah sunyi, langkah kaki kecilnya yang belum stabil, hingga kini ia telah melewati seribu hari pertamanya yang penuh warna.
​Kepadamu, persinggahan yang sebentar lagi akan menjadi asing:
​Terima kasih telah memeluk tumbuh kembang anakku.
​Terima kasih telah menjadi saksi bisu bagaimana aku tertatih, jatuh, dan bangkit kembali dalam belajar menjadi seorang ibu.
​Jika saja kau adalah makhluk yang bernapas dan memiliki detak jantung, ingin rasanya aku memelukmu erat sekali. Aku ingin kau tahu betapa lelahnya aku di sudut dapurmu, betapa bahagianya aku di atas lantai ruang tamumu, dan betapa hangatnya cinta keluarga kecilku yang pernah mengisi rongga-ronggamu.
​Kau telah melihatku di titik terendah dan saat-saat paling bercahaya. Kini, aku harus melangkah, membawa kenangan yang kau jaga selama ini.
Aku titipkan sebagian jiwaku di sela-sela lantai ini, biarkan ia menetap, sementara raga ini harus menemui alamat yang baru.

Saturday, December 13, 2025

Seporsi Mie Kari Ayam: Pergulatan Rasa dan Waktu

 ​Sejak dulu, ia hanyalah rasa yang asing,

Tertera jelas di daftar, namun tak pernah kuundang.

Seporsi mie kari ayam, sebuah paradoks lidah,

Bagaimana ribuan hati menjadikannya debar yang

indah?

Aku mencoba, sekali, dua kali,

Namun yang kudapat hanya aroma yang tak sejiwa,

Gumpalan rempah yang terasa keliru,

Kenapa nikmat itu begitu jauh dariku?

Ia kuanggap sebagai babak yang terlewat,

Menu yang tak pernah kuizinkan singgah di serat.

​Tahun-tahun berlayar, peta hidup berubah-ubah,

Hingga suatu hari, sebuah bisikan tak terduga.

Ingin mencoba lagi? tanyanya pelan.

Mie kari ayam, mengapa kini kau hadir 

di pelupuk ingatan?

Panci mengepul, aroma itu kembali menyeruak,

Namun kali ini, entah mengapa, ia tidak lagi 

mendesak.

Kuaduk perlahan, benang-benang kuning dan kuah keemasan,

Satu suapan. Terkejut.

Ini bukan rasa yang dulu kurasa.

Dimana pedih yang kuingat? Dimana ketidaksukaan itu?

Kini ia adalah kehangatan yang merangkul,

Kekayaan bumbu yang mekar, gurih yang jujur.

Kenapa? Apa yang berbeda?

​Ah, Seporsi mie kari ayam, kau cermin yang

tersembunyi.

Bukankah hidup kita serupa benang-benang mie

yang mengendur?

Ada hal-hal yang dulu kita anggap getir dan harus dihindari,

Situasi yang kita sangka takkan pernah mampu kita nikmati.

Mungkin dulu, bumbu kehidupan itu belum meresap sempurna,

Rasa rempahnya masih kaku, butuh waktu untuk saling menyapa.

​Kita bertemu dengan kari ayam kehidupan,

Yang dulu terasa asing, rumit, dan terlalu berani.

Kini, setelah melalui banyak hari dan perubahan hati,

Kuah yang sama itu tiba-tiba terasa cocok di lidah.

Kita tidak lagi melawan, tapi mengikuti ritmenya yang kental.

​Rupanya, yang berubah bukanlah rempahnya,

Tapi kedewasaan indra perasa di dalam jiwa.

Kita mulai menemukan keindahan dalam

kompleksitas rasa,

Belajar menerima bahwa hal yang dulu dibenci,

Kini bisa menjadi kenyamanan yang dicari.

​Seporsi mie kari ayam.

Penundaan yang berbuah penerimaan.

Menyisakan janji bahwa setiap penolakan hari ini,

Bisa jadi adalah kecintaan yang tertunda di esok hari.

Monday, December 8, 2025

Lampu Kota dan Kesunyian Sejati

​Risa berumur sembilan belas tahun, dan baginya, usia itu terasa seperti janji yang belum terbayar. Ia tinggal di sebuah kamar kos sempit di salah satu gang padat di belakang Plaza Gajah Mada. Kamar itu dingin, lembap, dan sering berbau masakan penghuni lain. Tapi setidaknya, kamar itu miliknya sendiri.

​Pukul sepuluh malam. Rasa lelah hari ini bukanlah lelah fisik karena mengerjakan tugas kuliah atau freelance desainnya. Ini adalah lelah yang mengendap di rongga dada, lelah karena harus terus menerus menahan diri. Lelah karena seharian berinteraksi, namun tak ada satu pun kata jujur yang terucap dari bibirnya.

​Ketika stres mulai mencekik, Risa punya ritualnya. Ia tak akan membuka media sosial atau menelepon siapa pun. Ia akan mengambil jaket tipisnya, memasukkan ponselnya ke saku, dan mulai berjalan kaki.

​Ia berjalan menembus keramaian kecil para pedagang kaki lima yang baru buka, melewati suara riuh motor dan bis yang tak henti. Kakinya membawa dia ke tempat yang selalu ia tuju: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan plaza besar itu.

​Malam ini, Risa berdiri di tengah jembatan besi itu. Kakinya terasa lega setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Di bawahnya, Jalan Gajah Mada terbentang megah, dipenuhi sungai cahaya yang mengalir. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis merah dan putih yang menari cepat.
​Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke langit Jakarta yang pekat. City light yang megah itu terasa ironis. Ribuan jendela bercahaya, menandakan ribuan kehidupan, ribuan cerita, ribuan keluarga yang berkumpul. Namun, di JPO ini, di tengah kemegahan itu, Risa merasa kesepian yang tak terperi.
​Ia rindu. Oh, ia sungguh rindu.
​Tapi ia tidak tahu apa yang ia rindukan. Bukan rumah, karena rumah orang tuanya di kota kecil dulu juga terasa sunyi. Bukan teman, karena pertemanannya di kampus terasa dangkal dan sebatas tugas.

​Risa memejamkan mata. Apakah yang ia rindukan itu adalah suara yang tulus? Genggaman tangan yang tidak menghakimi? Kehangatan yang benar-benar bisa ia peluk tanpa filter?
​Ia membuka matanya dan menatap mobil-mobil di bawah. Kecepatan mereka, desibel mesin mereka, semuanya terasa lebih nyata daripada perasaannya sendiri. Di sinilah satu-satunya tempat ia merasa didengarkan. Bukan oleh orang, tapi oleh keramaian yang anonim.

​Jika ia berteriak di sini, tak ada yang akan menoleh. Orang-orang akan mengira ia hanya gadis aneh yang menikmati angin malam. Itu sempurna. Karena kesunyian yang disengaja lebih baik daripada kesunyian di tengah keramaian.
​Risa mengeluarkan ponselnya, bukan untuk menelepon, tapi untuk menatap layarnya yang gelap.
​Kepada siapa aku harus bercerita?
​Bahwa aku lelah berpura-pura tahu masa depan.
Bahwa aku takut dengan kota sebesar ini.
Bahwa hati kecilku, yang baru 19 tahun, sudah terasa usang.

​Tidak ada nama yang muncul di benaknya. Ia tidak memiliki tempat pulang untuk jiwanya.
​Maka, ia memilih untuk berdiri diam, menjadi bagian dari lanskap yang bergerak tanpa peduli. Lampu kota yang megah adalah rahasia terbesar dan satu-satunya pendengar setianya. Setiap malam, ia membisikkan keputusasaannya pada gemuruh mesin dan kilau cahaya yang berputar cepat, tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjawab, tetapi juga tidak akan pernah mengkhianatinya.

​Ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Risa tahu waktunya untuk kembali ke kamarnya yang dingin. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bercampur asap dan janji palsu.
​Ia berbalik, meninggalkan city light di belakangnya. Di saat ia melangkah menuruni tangga JPO, ia hanya berharap, suatu hari nanti, "rindu" yang samar ini akan menemukan sebuah alamat, sebuah wajah, atau sebuah suara yang akan menyambutnya pulang.

​Sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan kaki, mencari JPO lain, dan menjadikan keramaian malam sebagai sahabat kesepiannya.

Wednesday, December 30, 2020

Saudade III


" Pergi dan kehilangan adalah dua hal yang tak terelakan"

21 oktober 2019
Pukul 04.20 selepas adzan subuh, kedua kakak saya membangunkan saya yang tertidur dikamar, kakak bilang bahwa ibu sudah tidak ada,  saya langsung bergegas keluar dan membangun kana bapak  dan adik saya yang tidur di ruang tamu,  juga membangunkan suami saya yang tertidur dikamar adik saya.

Tubuh ibu sangat dingin,  saya mencoba memeriksa denyut nandi ditangannya,  dan detak jantungnya,  saya masih bisa merasakan detak jantung terakhir ibu,  sebelum ibu meninggalkan raganya.

Saat menyaksikan ibu sudah tidak bernyawa,  saya mencium kening ibu, entah kenapa ada kelegaan dalam hati saya, dan berkata "sekarang ibu udah ga sakit lagi ya." kalimat itu masih berlanjut dalam hati. Dihati saya belum ada kesedihaan yang mendalam.

Setelah itu, kami semua sibuk mengabari sanak saudara,  sementara saya dan adik saya membeli bendera kuning dan spidol.  Selama perjalanan pulang, entah mengapa semua kenangan tentang ibu telintas dikepala saya. Sesampainya dirumah,  saya memberikan bendera dan spidol kepada adik saya.  Saya berjalan dengan tatapan kosong. Memasuki kamar,  terdiam,  dan pecahlah tangis saya. Sambil menangis saya berbicara tetang apa saja kebiasaan ibu.  Ibu selalu mengetuk pintu kamar saya dan menyuruh sarapan sebelum berangkat kerja,  ibu yang selalu mengirimi pesan menanyakan kabar saya dan bertanya kapan pulang, ibu yang selalu tidur di sofa ruang tamu kalau saya dan yang lainnya belum pulang.  Kakak saya memeluk saya dengan erat,  juga suami saya.

Hati saya terasa begitu sakit. Saya memilih untuk diam dikamar. Saya masih belum mau melihat jasad ibu (lagi). Juga menghindari orang-orang yang selalu tidak tahu bagaimana menghargai orang yang sedang berduka.  Saya mendengarkan dari kamar, banyak orang yang datang,  mengucapkan turut berduka tapi seketika itu juga bertanya kronologi tetang ibu saya,  kedua kakak saya yang sudah lelah selama beberapa hari, saat itu sedang berduka masih harus meladeni orang-orang seperti itu.  Menjelaskan lagi dan lagi,  tangisnya pecah lagi dan lagi.  Kesedihan saya sedikit berubah menjadi kekesalan, ingin rasanya keluar kamar dan memaki mereka semua.  Tapi saya memilih untuk tetap diam dikamar,  saya sudah berhenti menangis, saya berfikir,  sampai ketika ibu saya di kafani pasti akan runtuh segala ketegaran kakak-kakak saya,  yang dikuras habis oleh orang-orang itu.

ketika jenazah ibu hendak dimandikan,  saya dipaksa keluar, "dipaksa" untuk mencium & mengucapkan maaf kepada ibu untuk yang terakhir kali,  saya menolak serta menarik tangan saya dengan sedikit keras dari gengaman tante saya dan mengatakan "itu cuma jasadnya,  saya udah minta maaf kemarin ketika ibu masih bernyawa dan mendengar saya." mendengar ucapan saya,  beberapa orang yang mendengar, raut muka berubah,  tapi saya tidak peduli apapun yang dipikirkan orang-orang tentang saya.

Setelah selesai dimandikan, dan didandandi,  sebelum wajah ibu di tutup dengan kafan,  (lagi-lagi) kami anak-anaknya diminta untuk mencium untuk yang terakhir kali,  karena kedua kakak saya sedang 'berhalangan' maka tidak di perkenankan untuk menciumnya,  tiba giliran saya, saya pun juga sedang 'berhalangan' pun kalau tidak saya tetap tidak mau melakukannya,  saya tidak sanggup melakukannya.  Suami saya menggantikan saya, dari ikut memandikan & mencium ibu untuk yang terakhir.

Ibu sudah tenang disana, tinggallah bapak dan adik-adik saya, yang pasti harus terus menerus mengingat kenangan akan ibu. Karena merekalah orang-orang yang setiap harinya bersama dan merawat ibu. 

Itu juga jadi salah satu alasan saya tidak mau berada dirumah, karena saya tidak akan sanggup mengingat segala kenangan ibu dengan segala kebiasaannya di tiap sudut rumah. 

Saya tidak sekuat kakak, adik dan bapak. Tapi satu hal perlu mereka ketahui, tidak sedikitpun berkurang rasa cinta saya terhadap ibu, juga bapak. Serta keluarga kami. 
Selamat jalan ibu. 

Monday, June 22, 2020

Pandemi Covid-19

Sudah tiga bulan sejak di rumahkan dari tempat kerja, saya hanya berdiam di kostan.  Membaca beberapa novel,  menonton beberapa film, mewarnai beberapa gambar dan memakan tidak sedikit makanan. 
Banyak pengalaman pertama yang saya & suami saya alami. 

Selain pengalaman menjadi gendut kembali,
setelah beberapa tahun tidak semenggembung ini. 
Mundur sedikit, ini tahun ke tiga saya menyepi di bali, dari tahun pertama 2018, sampai tahun ini saya melaluinya dengan pengalaman yang berbeda. Tahun pertama,  saya menyepi bersama sahabat saya yang beragama hindu di denpasar,  tahun kedua saya menyepi di karangasem di kampung muslim, kediaman orang tua pacar saya,  yang kini jadi mertua saya, di tahun ketiga,  tepatnya tahun ini,  saya menyepi di denpasar,  bedanya kali ini saya bersama suami saya, di sertai kepanikan dengan begitu tiba-tibanya suami saya terserang vertigo di siang hari, bersyukur bisa membaik dengan obat-obatan yang kami punya. Segala kecemasan di siang hari, terbayar dengan keindahan langit di malam hari, kami menikmati taburan bintang diangkasa dari depan pintu kamar kami. 

Itu hanya salah satu pengalaman baru yang saya dapatkan, mungkin juga suami saya. 
Pengalaman baru lainnya,  puasa kali ini tidak ada shalat tarawih berjama'ah di masjid ataupun musola. Dan puasa kali ini pun jadi puasa pertama kami,  ya saya dan suami. Setelah beberapa tahun,  ketika ngekos saya hampir tidak lagi melakukan sahur,  di tahun ini saya bangun untuk memasak dan juga makam sahur bersama suami saya,  tapi itu hanya berjalan hanya di dua minggu pertama saja,  karena perut saya belum bisa menyesuaikan untuk makan di waktu dini hari. 

Juga, menjadi idulfitri pertama kami (saya & suami),  kali pertama kami hanya berdua di hari raya,  khusunya suaminya saya.  Segala rencana untuk mudik ke depok pun batal,  karena COVID-19. Suami saya tidak berani pulang ke karangasem,  rumah orang tuanya,  karena takut menjadi carrier untuk orangtuanya,  yang sudah cukup berusia senja dan juga punya penyakit bawaan.  
Juga menjadi lebaran pertama tanya telpon dari ibu,  yang kini saya yakin sudah mendapat tempat terbaik di sisiNYA. 

Ada juga permasalahan baru yang saya dan suami saya alami,  yang alhamdulillah sejauh ini bisa kami lalui. 

Tahun ini adalah tahun serba pertama tentang banyak hal yang saya alami. Yang tidak bisa saya tuliskan dengan detail. 
Saya hanya berharap pandemi ini segera berakhir.