Monday, March 23, 2026

​Membangun Memori dalam Toples Kue: Catatan Lebaran Kali Ini

Lebaran kali ini terasa berbeda. Mungkin bukan hanya hari rayanya, tapi sejak awal Ramadan pun suasananya sudah tak sama. Tahun ini, saya kembali menjalankan ibadah puasa setelah masa menyusui selesai. Di saat yang sama, saya pun telah kembali ke dunia kerja. Kesibukan di lingkungan baru yang mayoritas non-muslim membuat vibes Ramadan kali ini tidak terlalu kental terasa—entah hanya perasaan saya saja atau memang begitu adanya.


​Namun, ada hal lain yang membuat tahun ini jauh lebih bermakna.


​Selama beberapa tahun terakhir, saya kehilangan rasa antusias dalam menyambut Idulfitri. Saya masih terlarut dalam kesedihan atas berpulangnya Ibu dan Kakak pertama. Bayang-bayang kehilangan itu seolah menutup kegembiraan hari raya. Tapi entah mengapa, tahun ini memori masa kecil bersama keluarga justru bangkit kembali dengan begitu hangat.


​Saya ingat betul bagaimana dulu kami sekeluarga berkumpul mengeroyok tumpukan kacang tanah yang sudah direndam air panas. Saya, Bapak, dan kakak-kakak sibuk mengupas kulit arinya, sementara Ibu yang bertugas menggorengnya dengan irisan bawang putih yang harum. Kegiatan itu sangat melelahkan, bisa memakan waktu seharian penuh.


​Ada juga kenangan membuat kue ketapang; Ibu yang menyiapkan adonan, lalu kami bergantian memulung dan mengguntingnya. Mengingat itu semua sekarang membawa rasa hangat di hati. Memori-memori sederhana itulah yang kemudian membuat saya terpikir tentang anak saya, Jema.


​Saya ingin Jema punya kenangan berharga yang bisa ia simpan selaksa saya sudah tidak ada nanti. Saya ingin dia merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan dulu. Akhirnya, tahun ini saya memutuskan untuk membuat kue Lebaran sendiri untuk dinikmati di rumah.


​Meski harus menunggu hari libur kerja tiba, Jema yang baru berusia 27 bulan ternyata sangat bersemangat. Kami tidak membuat banyak macam, hanya palm cheese cookies kesukaannya dan brownies crispy. Jema benar-benar terlibat dalam setiap prosesnya. Dia ikut menuangkan bahan sesuai instruksi, memperhatikan saya mengaduk, lalu dengan telaten membantu membalurkan bulatan adonan ke dalam gula palem dan menyusunnya di atas loyang. Saat membuat brownies crispy pun, jemari kecilnya sibuk menaburkan sprinkle di atas adonan.


​Saya melihat binar bahagia di matanya. Mungkin itulah yang saya rasakan dulu; meski lelah duduk seharian, proses itu menjadi memori yang sangat indah saat semuanya kini sudah tak lagi sama.


​Tahun ini, Idulfitri saya terasa memiliki tujuan yang lebih dalam: menciptakan momen keluarga untuk Jema. Saya tidak tahu apakah dia akan mengingat detail kejadian ini saat dewasa nanti, tapi saya yakin perasaan bahagia itu terekam kuat di alam bawah sadarnya.


​Terima kasih, Jema, sudah hadir dan membuat hari-hari Ibu menjadi jauh lebih berarti dan lebih baik.

Tuesday, December 30, 2025

Memorabilia Dinding

Setiap kali aku berdiri di ambang pintu yang akan segera kukunci untuk terakhir kalinya, ada debar yang tidak pernah berubah. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di dada, tak kasat mata, tak terbahasakan, namun selalu ada. Seolah-olah ada akar di bawah kakiku yang dipaksa lepas sebelum ia sempat menghunjam dalam ke bumi.
​Mungkin ini adalah kutukan atau sekadar kebiasaan. Sejak kecil, hidupku adalah tentang berpindah; tentang koper-koper yang tak pernah benar-benar kosong dan perpisahan yang menjadi kawan akrab. Namun anehnya, meski aku tahu aku tak bisa berlama-lama di satu tempat, rasa sesak ini tetap datang dengan intensitas yang sama. Persis, tak ada yang berubah.
​Namun, setiap perpisahan selalu terasa berat.
​Persinggahan ini bukan sekadar atap. Ia adalah saksi bisu dari sebuah keajaiban. Di sinilah, sejak hari ketiga kelahirannya, buah hatiku mulai menghirup dunia. Dinding-dinding ini telah merekam tangis pertamanya yang memecah sunyi, langkah kaki kecilnya yang belum stabil, hingga kini ia telah melewati seribu hari pertamanya yang penuh warna.
​Kepadamu, persinggahan yang sebentar lagi akan menjadi asing:
​Terima kasih telah memeluk tumbuh kembang anakku.
​Terima kasih telah menjadi saksi bisu bagaimana aku tertatih, jatuh, dan bangkit kembali dalam belajar menjadi seorang ibu.
​Jika saja kau adalah makhluk yang bernapas dan memiliki detak jantung, ingin rasanya aku memelukmu erat sekali. Aku ingin kau tahu betapa lelahnya aku di sudut dapurmu, betapa bahagianya aku di atas lantai ruang tamumu, dan betapa hangatnya cinta keluarga kecilku yang pernah mengisi rongga-ronggamu.
​Kau telah melihatku di titik terendah dan saat-saat paling bercahaya. Kini, aku harus melangkah, membawa kenangan yang kau jaga selama ini.
Aku titipkan sebagian jiwaku di sela-sela lantai ini, biarkan ia menetap, sementara raga ini harus menemui alamat yang baru.

Saturday, December 13, 2025

Seporsi Mie Kari Ayam: Pergulatan Rasa dan Waktu

 ​Sejak dulu, ia hanyalah rasa yang asing,

Tertera jelas di daftar, namun tak pernah kuundang.

Seporsi mie kari ayam, sebuah paradoks lidah,

Bagaimana ribuan hati menjadikannya debar yang

indah?

Aku mencoba, sekali, dua kali,

Namun yang kudapat hanya aroma yang tak sejiwa,

Gumpalan rempah yang terasa keliru,

Kenapa nikmat itu begitu jauh dariku?

Ia kuanggap sebagai babak yang terlewat,

Menu yang tak pernah kuizinkan singgah di serat.

​Tahun-tahun berlayar, peta hidup berubah-ubah,

Hingga suatu hari, sebuah bisikan tak terduga.

Ingin mencoba lagi? tanyanya pelan.

Mie kari ayam, mengapa kini kau hadir 

di pelupuk ingatan?

Panci mengepul, aroma itu kembali menyeruak,

Namun kali ini, entah mengapa, ia tidak lagi 

mendesak.

Kuaduk perlahan, benang-benang kuning dan kuah keemasan,

Satu suapan. Terkejut.

Ini bukan rasa yang dulu kurasa.

Dimana pedih yang kuingat? Dimana ketidaksukaan itu?

Kini ia adalah kehangatan yang merangkul,

Kekayaan bumbu yang mekar, gurih yang jujur.

Kenapa? Apa yang berbeda?

​Ah, Seporsi mie kari ayam, kau cermin yang

tersembunyi.

Bukankah hidup kita serupa benang-benang mie

yang mengendur?

Ada hal-hal yang dulu kita anggap getir dan harus dihindari,

Situasi yang kita sangka takkan pernah mampu kita nikmati.

Mungkin dulu, bumbu kehidupan itu belum meresap sempurna,

Rasa rempahnya masih kaku, butuh waktu untuk saling menyapa.

​Kita bertemu dengan kari ayam kehidupan,

Yang dulu terasa asing, rumit, dan terlalu berani.

Kini, setelah melalui banyak hari dan perubahan hati,

Kuah yang sama itu tiba-tiba terasa cocok di lidah.

Kita tidak lagi melawan, tapi mengikuti ritmenya yang kental.

​Rupanya, yang berubah bukanlah rempahnya,

Tapi kedewasaan indra perasa di dalam jiwa.

Kita mulai menemukan keindahan dalam

kompleksitas rasa,

Belajar menerima bahwa hal yang dulu dibenci,

Kini bisa menjadi kenyamanan yang dicari.

​Seporsi mie kari ayam.

Penundaan yang berbuah penerimaan.

Menyisakan janji bahwa setiap penolakan hari ini,

Bisa jadi adalah kecintaan yang tertunda di esok hari.

Monday, December 8, 2025

Lampu Kota dan Kesunyian Sejati

​Risa berumur sembilan belas tahun, dan baginya, usia itu terasa seperti janji yang belum terbayar. Ia tinggal di sebuah kamar kos sempit di salah satu gang padat di belakang Plaza Gajah Mada. Kamar itu dingin, lembap, dan sering berbau masakan penghuni lain. Tapi setidaknya, kamar itu miliknya sendiri.

​Pukul sepuluh malam. Rasa lelah hari ini bukanlah lelah fisik karena mengerjakan tugas kuliah atau freelance desainnya. Ini adalah lelah yang mengendap di rongga dada, lelah karena harus terus menerus menahan diri. Lelah karena seharian berinteraksi, namun tak ada satu pun kata jujur yang terucap dari bibirnya.

​Ketika stres mulai mencekik, Risa punya ritualnya. Ia tak akan membuka media sosial atau menelepon siapa pun. Ia akan mengambil jaket tipisnya, memasukkan ponselnya ke saku, dan mulai berjalan kaki.

​Ia berjalan menembus keramaian kecil para pedagang kaki lima yang baru buka, melewati suara riuh motor dan bis yang tak henti. Kakinya membawa dia ke tempat yang selalu ia tuju: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan plaza besar itu.

​Malam ini, Risa berdiri di tengah jembatan besi itu. Kakinya terasa lega setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Di bawahnya, Jalan Gajah Mada terbentang megah, dipenuhi sungai cahaya yang mengalir. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis merah dan putih yang menari cepat.
​Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke langit Jakarta yang pekat. City light yang megah itu terasa ironis. Ribuan jendela bercahaya, menandakan ribuan kehidupan, ribuan cerita, ribuan keluarga yang berkumpul. Namun, di JPO ini, di tengah kemegahan itu, Risa merasa kesepian yang tak terperi.
​Ia rindu. Oh, ia sungguh rindu.
​Tapi ia tidak tahu apa yang ia rindukan. Bukan rumah, karena rumah orang tuanya di kota kecil dulu juga terasa sunyi. Bukan teman, karena pertemanannya di kampus terasa dangkal dan sebatas tugas.

​Risa memejamkan mata. Apakah yang ia rindukan itu adalah suara yang tulus? Genggaman tangan yang tidak menghakimi? Kehangatan yang benar-benar bisa ia peluk tanpa filter?
​Ia membuka matanya dan menatap mobil-mobil di bawah. Kecepatan mereka, desibel mesin mereka, semuanya terasa lebih nyata daripada perasaannya sendiri. Di sinilah satu-satunya tempat ia merasa didengarkan. Bukan oleh orang, tapi oleh keramaian yang anonim.

​Jika ia berteriak di sini, tak ada yang akan menoleh. Orang-orang akan mengira ia hanya gadis aneh yang menikmati angin malam. Itu sempurna. Karena kesunyian yang disengaja lebih baik daripada kesunyian di tengah keramaian.
​Risa mengeluarkan ponselnya, bukan untuk menelepon, tapi untuk menatap layarnya yang gelap.
​Kepada siapa aku harus bercerita?
​Bahwa aku lelah berpura-pura tahu masa depan.
Bahwa aku takut dengan kota sebesar ini.
Bahwa hati kecilku, yang baru 19 tahun, sudah terasa usang.

​Tidak ada nama yang muncul di benaknya. Ia tidak memiliki tempat pulang untuk jiwanya.
​Maka, ia memilih untuk berdiri diam, menjadi bagian dari lanskap yang bergerak tanpa peduli. Lampu kota yang megah adalah rahasia terbesar dan satu-satunya pendengar setianya. Setiap malam, ia membisikkan keputusasaannya pada gemuruh mesin dan kilau cahaya yang berputar cepat, tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjawab, tetapi juga tidak akan pernah mengkhianatinya.

​Ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Risa tahu waktunya untuk kembali ke kamarnya yang dingin. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bercampur asap dan janji palsu.
​Ia berbalik, meninggalkan city light di belakangnya. Di saat ia melangkah menuruni tangga JPO, ia hanya berharap, suatu hari nanti, "rindu" yang samar ini akan menemukan sebuah alamat, sebuah wajah, atau sebuah suara yang akan menyambutnya pulang.

​Sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan kaki, mencari JPO lain, dan menjadikan keramaian malam sebagai sahabat kesepiannya.

Wednesday, December 30, 2020

Saudade III


" Pergi dan kehilangan adalah dua hal yang tak terelakan"

21 oktober 2019
Pukul 04.20 selepas adzan subuh, kedua kakak saya membangunkan saya yang tertidur dikamar, kakak bilang bahwa ibu sudah tidak ada,  saya langsung bergegas keluar dan membangun kana bapak  dan adik saya yang tidur di ruang tamu,  juga membangunkan suami saya yang tertidur dikamar adik saya.

Tubuh ibu sangat dingin,  saya mencoba memeriksa denyut nandi ditangannya,  dan detak jantungnya,  saya masih bisa merasakan detak jantung terakhir ibu,  sebelum ibu meninggalkan raganya.

Saat menyaksikan ibu sudah tidak bernyawa,  saya mencium kening ibu, entah kenapa ada kelegaan dalam hati saya, dan berkata "sekarang ibu udah ga sakit lagi ya." kalimat itu masih berlanjut dalam hati. Dihati saya belum ada kesedihaan yang mendalam.

Setelah itu, kami semua sibuk mengabari sanak saudara,  sementara saya dan adik saya membeli bendera kuning dan spidol.  Selama perjalanan pulang, entah mengapa semua kenangan tentang ibu telintas dikepala saya. Sesampainya dirumah,  saya memberikan bendera dan spidol kepada adik saya.  Saya berjalan dengan tatapan kosong. Memasuki kamar,  terdiam,  dan pecahlah tangis saya. Sambil menangis saya berbicara tetang apa saja kebiasaan ibu.  Ibu selalu mengetuk pintu kamar saya dan menyuruh sarapan sebelum berangkat kerja,  ibu yang selalu mengirimi pesan menanyakan kabar saya dan bertanya kapan pulang, ibu yang selalu tidur di sofa ruang tamu kalau saya dan yang lainnya belum pulang.  Kakak saya memeluk saya dengan erat,  juga suami saya.

Hati saya terasa begitu sakit. Saya memilih untuk diam dikamar. Saya masih belum mau melihat jasad ibu (lagi). Juga menghindari orang-orang yang selalu tidak tahu bagaimana menghargai orang yang sedang berduka.  Saya mendengarkan dari kamar, banyak orang yang datang,  mengucapkan turut berduka tapi seketika itu juga bertanya kronologi tetang ibu saya,  kedua kakak saya yang sudah lelah selama beberapa hari, saat itu sedang berduka masih harus meladeni orang-orang seperti itu.  Menjelaskan lagi dan lagi,  tangisnya pecah lagi dan lagi.  Kesedihan saya sedikit berubah menjadi kekesalan, ingin rasanya keluar kamar dan memaki mereka semua.  Tapi saya memilih untuk tetap diam dikamar,  saya sudah berhenti menangis, saya berfikir,  sampai ketika ibu saya di kafani pasti akan runtuh segala ketegaran kakak-kakak saya,  yang dikuras habis oleh orang-orang itu.

ketika jenazah ibu hendak dimandikan,  saya dipaksa keluar, "dipaksa" untuk mencium & mengucapkan maaf kepada ibu untuk yang terakhir kali,  saya menolak serta menarik tangan saya dengan sedikit keras dari gengaman tante saya dan mengatakan "itu cuma jasadnya,  saya udah minta maaf kemarin ketika ibu masih bernyawa dan mendengar saya." mendengar ucapan saya,  beberapa orang yang mendengar, raut muka berubah,  tapi saya tidak peduli apapun yang dipikirkan orang-orang tentang saya.

Setelah selesai dimandikan, dan didandandi,  sebelum wajah ibu di tutup dengan kafan,  (lagi-lagi) kami anak-anaknya diminta untuk mencium untuk yang terakhir kali,  karena kedua kakak saya sedang 'berhalangan' maka tidak di perkenankan untuk menciumnya,  tiba giliran saya, saya pun juga sedang 'berhalangan' pun kalau tidak saya tetap tidak mau melakukannya,  saya tidak sanggup melakukannya.  Suami saya menggantikan saya, dari ikut memandikan & mencium ibu untuk yang terakhir.

Ibu sudah tenang disana, tinggallah bapak dan adik-adik saya, yang pasti harus terus menerus mengingat kenangan akan ibu. Karena merekalah orang-orang yang setiap harinya bersama dan merawat ibu. 

Itu juga jadi salah satu alasan saya tidak mau berada dirumah, karena saya tidak akan sanggup mengingat segala kenangan ibu dengan segala kebiasaannya di tiap sudut rumah. 

Saya tidak sekuat kakak, adik dan bapak. Tapi satu hal perlu mereka ketahui, tidak sedikitpun berkurang rasa cinta saya terhadap ibu, juga bapak. Serta keluarga kami. 
Selamat jalan ibu. 

Monday, June 22, 2020

Pandemi Covid-19

Sudah tiga bulan sejak di rumahkan dari tempat kerja, saya hanya berdiam di kostan.  Membaca beberapa novel,  menonton beberapa film, mewarnai beberapa gambar dan memakan tidak sedikit makanan. 
Banyak pengalaman pertama yang saya & suami saya alami. 

Selain pengalaman menjadi gendut kembali,
setelah beberapa tahun tidak semenggembung ini. 
Mundur sedikit, ini tahun ke tiga saya menyepi di bali, dari tahun pertama 2018, sampai tahun ini saya melaluinya dengan pengalaman yang berbeda. Tahun pertama,  saya menyepi bersama sahabat saya yang beragama hindu di denpasar,  tahun kedua saya menyepi di karangasem di kampung muslim, kediaman orang tua pacar saya,  yang kini jadi mertua saya, di tahun ketiga,  tepatnya tahun ini,  saya menyepi di denpasar,  bedanya kali ini saya bersama suami saya, di sertai kepanikan dengan begitu tiba-tibanya suami saya terserang vertigo di siang hari, bersyukur bisa membaik dengan obat-obatan yang kami punya. Segala kecemasan di siang hari, terbayar dengan keindahan langit di malam hari, kami menikmati taburan bintang diangkasa dari depan pintu kamar kami. 

Itu hanya salah satu pengalaman baru yang saya dapatkan, mungkin juga suami saya. 
Pengalaman baru lainnya,  puasa kali ini tidak ada shalat tarawih berjama'ah di masjid ataupun musola. Dan puasa kali ini pun jadi puasa pertama kami,  ya saya dan suami. Setelah beberapa tahun,  ketika ngekos saya hampir tidak lagi melakukan sahur,  di tahun ini saya bangun untuk memasak dan juga makam sahur bersama suami saya,  tapi itu hanya berjalan hanya di dua minggu pertama saja,  karena perut saya belum bisa menyesuaikan untuk makan di waktu dini hari. 

Juga, menjadi idulfitri pertama kami (saya & suami),  kali pertama kami hanya berdua di hari raya,  khusunya suaminya saya.  Segala rencana untuk mudik ke depok pun batal,  karena COVID-19. Suami saya tidak berani pulang ke karangasem,  rumah orang tuanya,  karena takut menjadi carrier untuk orangtuanya,  yang sudah cukup berusia senja dan juga punya penyakit bawaan.  
Juga menjadi lebaran pertama tanya telpon dari ibu,  yang kini saya yakin sudah mendapat tempat terbaik di sisiNYA. 

Ada juga permasalahan baru yang saya dan suami saya alami,  yang alhamdulillah sejauh ini bisa kami lalui. 

Tahun ini adalah tahun serba pertama tentang banyak hal yang saya alami. Yang tidak bisa saya tuliskan dengan detail. 
Saya hanya berharap pandemi ini segera berakhir. 

Wednesday, January 22, 2020

Episodik

Tidak selalu harus rumput hijau, angin tepi sawah,  kopi senja atau apapun yang sedang hits-hitsnya. 

Melangkah dibawah langit malam, polusi asap kendaraan yang terhirup memenuhi rongga paru-paru tersamarkan gelap malam. 

Lampu kemacetan lalu lintas yang bisa di nikmati dari jembatan penyebrangan orang. Gedung-gedung tinggi sepanjang jalan sudirman. Berbagai macam aroma makanan sepanjang pinggir jalan halte harmoni sampai jalan gajah mada, jadi teman paling menyenangkan. 

Bunyi klakson saling bersautan. Bau debu yang terbawa angin malam.  Kerumunan orang-orang saling berdesakan dengan wajah lelah,  berharap cepat sampai dirumah. 

Menyepi dalam keramaian hal menenangkan sekaligus  menyenangkan untuk sesekali dirindukan.