Saya sudah mengalami bagaimana beratnya pertama kali menjadi ibu dan menjadi ibu rumah tangga. Di postingan sebelumnya, walau tidak semua hal saya ceritakan, tapi itu cukup mewakili apa yang saya alami selama menjadi ibu dan IRT.
Namun, di awal 2026 ini, saya kembali memulai karier yang sempat terhenti karena keputusan untuk fokus pada kehamilan dan 1.000 hari pertama anak kami.
Saya masih ingat ketika dinyatakan lolos interview dan bisa mulai bekerja pada Senin, 19 Januari 2026. Perasaan itu seperti sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan. Excited, bangga, dan bersyukur. Di usia yang tentu sudah tidak muda lagi untuk kriteria di negara ini, ternyata saya masih mampu bersaing.
Tapi di sisi lain, sepanjang perjalanan pulang saya mengalami pergolakan batin. Senang, sekaligus gelisah dan sedih di waktu yang bersamaan. Karena saya merasa akan berpisah dengan anak saya. Hari-hari yang biasanya kami lalui bersama akan berubah.
Sesampainya di rumah, saya langsung mengajak anak saya berbicara. Saya memberi tahu bahwa sebentar lagi keadaan akan berbeda. Saya tahu ini bukan hal yang mudah untuk dipahami oleh anak yang saat itu baru berusia 2 tahun 1 bulan. Apalagi kami baru pindah rumah belum genap sebulan, ditambah lagi aktivitas kami akan berubah dan pengasuh utamanya pun berganti.
Seolah mengerti apa yang saya katakan, dia hanya menatap saya. Di matanya ada kebingungan. Namun, beberapa saat kemudian dia tersenyum dan kembali bermain.
Sejak hari itu, setiap ada kesempatan untuk mengobrol, saya selalu berusaha memberi tahunya tentang perubahan yang akan terjadi. Saya ingin dia pelan-pelan terbiasa dengan kenyataan bahwa nanti Ibu tidak akan selalu ada di rumah setiap saat.
Sampai akhirnya hari itu tiba. Hari pertama saya masuk kerja.
Dia tidak menangis. Sepertinya dia mengira saya hanya pergi sebentar, karena biasanya ketika dia bersama Baba, saya memang sering keluar beberapa jam untuk me time.
Sore harinya, saat saya pulang, dia menyambut saya. Wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan, tetapi saya tidak bisa membohongi diri sendiri—dia merindukan saya. Begitu juga saya.
Namun, ada satu hal yang berbeda. Entah kenapa hati saya justru terasa lebih lega. Walaupun saya sangat merindukannya, rasanya seperti ada beban yang terangkat. Mungkin selama ini saya terlalu lama berkutat pada rutinitas yang itu-itu saja. Hampir tidak ada interaksi dengan dunia luar, selain bersama anak saya.
Meski begitu, rasa lega itu tidak berarti proses adaptasi menjadi lebih mudah.
~**~
Awal-awal kembali bekerja menjadi masa yang cukup berat untuk saya. Bukan hanya karena saya sedang beradaptasi dengan ritme hidup yang baru, tetapi juga karena saya harus melihat Jema berusaha memahami perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya.
Saat itu usianya baru 25 bulan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dia harus menghadapi kepindahan rumah ke Karangasem, lingkungan yang benar-benar baru, lalu rutinitas yang berubah karena saya kembali bekerja. Saya bisa membayangkan betapa besarnya perubahan itu untuk anak seusianya.
Setiap malam sepulang kerja, sebelum tidur saya selalu mengajaknya mengobrol. Beruntungnya, sejak usianya sekitar 1,5 tahun kami sudah mulai mengenalkan berbagai macam emosi dan mengajarkan nama-namanya. Jadi saya terbiasa bertanya, "Hari ini Jema merasa apa?"
Jawabannya hampir selalu sama.
"Kangen Ibu."
Yang membuat saya bersyukur, dia mampu mengutarakan apa yang dia rasakan.
Beberapa kali dia berkata sambil menangis, "Kangen Ibu. Ibu jangan kerja."
Kalimat itu selalu berhasil membuat hati saya sesak. Saya berusaha memberinya pengertian bahwa Ibu harus bekerja, meski saya tidak tahu apakah dia benar-benar memahami penjelasan saya atau tidak. Dia hanya menjawab dengan polos, "Baba aja yang kerja."
Belum genap dua minggu saya kembali bekerja, saya mulai melihat perubahan lain pada dirinya.
Saya tidak ingin menyebutnya sebagai kemunduran, mungkin lebih tepat jika disebut sebagai penurunan kemampuan (walaupun saya juga tidak yakin apa istilah yang paling tepat). Sejak usia sekitar 22 bulan, Jema sudah tidak BAB di popok lagi. Dia mulai belajar BAB di toilet karena memang sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan, bukan karena saya memaksanya. Saat itu saya masih sepenuhnya di rumah sehingga hampir setiap hari saya bisa mendampinginya dan memberikan stimulasi.
Namun setelah saya kembali bekerja, dia mulai BAB di popok lagi.
Melihat itu, rasa bersalah langsung datang. Saya terus bertanya-tanya apakah keputusan saya untuk bekerja membuatnya kehilangan rasa aman, atau membuat proses belajarnya terganggu. Rasanya sulit untuk tidak menyalahkan diri sendiri.
Pada akhirnya saya memilih untuk tidak memaksanya. Saya membiarkan dia kembali merasa nyaman dengan popoknya. Sampai hari ini kami masih belajar lagi pelan-pelan. Kadang dia mau BAB di toilet, kadang masih memilih popok.
Dan tidak apa-apa.
Saya percaya setiap anak punya waktunya sendiri, dan tugas saya bukan mengejar target, tetapi tetap mendampinginya dengan sabar.
Di tengah semua proses adaptasi itu, saya justru menyadari sesuatu tentang diri saya sendiri.
Setelah kembali bekerja, saya merasa menjadi ibu yang lebih baik. Tentu ini adalah penilaian yang sangat subjektif. Saya tidak sedang mengatakan bahwa ibu bekerja lebih baik daripada ibu rumah tangga, atau sebaliknya. Ini murni perbandingan antara diri saya yang dulu dengan diri saya yang sekarang. Saya tidak lagi semudah itu marah kepada Jema. Mungkin karena saya kembali memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri, bertemu orang lain, belajar hal-hal baru, dan menjalani peran selain sebagai ibu. Ketika pulang ke rumah, saya datang dengan energi yang berbeda. Waktu bersama Jema terasa lebih berkualitas, dan saya lebih hadir sepenuhnya untuknya.
Meski begitu, menjadi ibu bekerja juga membuat saya memahami bahwa mom guilt itu benar-benar nyata.
Ada banyak hal yang dulu bisa saya kontrol, sekarang tidak lagi.
Misalnya soal makanan. Asupan gula Jema sekarang tidak seketat dulu. Bukan karena saya tidak peduli, tetapi karena saya tidak lagi bersamanya selama 24 jam. Walaupun dia bersama Baba, Baba juga tetap harus bekerja. Akan selalu ada momen ketika perhatian harus terbagi dan ada hal-hal yang luput dari pengawasan.
~**~
Waktu berlalu. Perlahan, anak saya mulai terbiasa dengan semuanya. Dia sudah terlihat bisa beradaptasi, punya teman bermain, dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang di sekitarnya.
Pujian pun mulai datang dari Nenek, Mbah, dan keluarga yang membersamainya. Katanya Jema anak yang jarang menangis, pintar, suka bernyanyi, cerewet, aktif, dan masih banyak lagi.
Tapi dari semua pujian itu, lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri.
Apa benar itu yang dia rasakan? Atau itu hanya caranya melanjutkan hidup setelah semua perubahan yang terjadi?
Rutinitas kami sebelum tidur ternyata masih tetap sama. Kami mengobrol, lalu saya bertanya kepada Jema bagaimana perasaannya hari itu.
Jawabannya sekarang sudah mulai bervariasi, dan sering kali membuat saya kaget sekaligus kagum.
Kadang dia bilang dia tidak suka dengan sesuatu yang terjadi hari itu. Kadang dia bilang dia happy sekali. Kadang dia bilang dia sedih karena sesuatu.
Mendengar jawabannya, saya merasa senang karena dia mau jujur dan mau bercerita kepada saya. Bahkan kalau ada hal yang tidak dia sukai dari saya atau Babanya, dia akan mengatakannya.
Baru saja terjadi kemarin.
Saya harus berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Sejak malam sebelumnya saya sudah memberi tahu Jema kalau besok pagi saya harus berangkat lebih awal. Saya bilang, kalau bisa bangun lebih pagi supaya kita masih sempat bertemu sebelum Ibu berangkat kerja.
Tapi ketika pagi tiba, sepertinya dia masih sangat mengantuk. Kami sudah berusaha membangunkannya, tetapi dia benar-benar tidak bisa bangun. Akhirnya saya berangkat tanpa sempat bertemu dengannya.
Sepulang kerja, Baba bercerita kalau sejak siang Jema tidak mau makan. Dia juga tidak mau jajan, hanya mau makan buah. Padahal biasanya kalau tidak mau makan, dia masih mau ngemil.
Saya mencoba mengajaknya bicara, tetapi dia masih sibuk bermain dan tertawa-tawa seperti biasa.
Akhirnya saya mengajaknya makan di luar sambil bermain. Dia makan dengan lahap sampai habis.
Saat perjalanan pulang, ada hal yang berbeda lagi. Biasanya dia paling senang berdiri di motor dan tidak mau duduk di belakang bersama saya. Tapi hari itu dia justru minta duduk di belakang sambil digendong menghadap saya.
Dia bilang, "Mau dipeluk."
Tentu saja saya menurutinya.
Di dalam hati saya sudah punya firasat kalau semua ini mungkin karena tadi pagi kami tidak sempat bertemu.
Malam sebelum tidur, saya kembali mengingatkan bahwa besok pagi saya masih harus berangkat lebih awal seperti hari ini. Dia mengangguk mengerti.
Lalu seperti biasa saya bertanya tentang perasaannya hari itu. Saya juga mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat dia jawab.
"Kenapa tadi tidak mau makan siang?"
Dia tidak langsung menjawab. Dia diam sejenak.
Lalu, di luar dugaan, dia berkata,
"Jema sedih sekali. Baba tidak bantuin Ibu bangun."
Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya.
Saya memanggil Baba karena ternyata kesedihannya berkaitan dengan Baba.
Baba lalu bertanya lagi, "Baba nggak bantuin Ibu apa?"
Ternyata yang dimaksud Jema adalah dia mengira Baba tidak membantu Ibu membangunkannya sebelum saya berangkat kerja. Di pikirannya, kalau saja Baba membantu membangunkannya, kami pasti masih sempat bertemu sebelum saya berangkat.
Baba kemudian menjelaskan bahwa kami berdua sebenarnya sudah berusaha membangunkannya. Hanya saja hari itu dia memang susah sekali bangun dan akhirnya terbangun lebih siang dari biasanya. Kesedihannya valid. Kami juga meminta maaf karena membuatnya berpikir bahwa kami tidak membangunkannya. Sampai akhirnya dia merasa sedih karena tidak sempat bertemu dengan saya sebelum berangkat kerja.
saya pun mengatakan "boleh kok sedih, kalau sedih, tetep harus makan ya, kan tetep butuh energi." dia pun mengangguk.
Keesokan paginya dia bangun lebih awal. Sebelum saya berangkat kerja, kami sempat bertemu dan berpamitan seperti biasa.
Dan di momen itu saya baru menyadari, di usianya yang masih sekecil itu ternyata dia sudah bisa membuat sebuah asumsi.