Sejak dulu, ia hanyalah rasa yang asing,
Tertera jelas di daftar, namun tak pernah kuundang.
Seporsi mie kari ayam, sebuah paradoks lidah,
Bagaimana ribuan hati menjadikannya debar yang
indah?
Aku mencoba, sekali, dua kali,
Namun yang kudapat hanya aroma yang tak sejiwa,
Gumpalan rempah yang terasa keliru,
Kenapa nikmat itu begitu jauh dariku?
Ia kuanggap sebagai babak yang terlewat,
Menu yang tak pernah kuizinkan singgah di serat.
Tahun-tahun berlayar, peta hidup berubah-ubah,
Hingga suatu hari, sebuah bisikan tak terduga.
Ingin mencoba lagi? tanyanya pelan.
Mie kari ayam, mengapa kini kau hadir
di pelupuk ingatan?
Panci mengepul, aroma itu kembali menyeruak,
Namun kali ini, entah mengapa, ia tidak lagi
mendesak.
Kuaduk perlahan, benang-benang kuning dan kuah keemasan,
Satu suapan. Terkejut.
Ini bukan rasa yang dulu kurasa.
Dimana pedih yang kuingat? Dimana ketidaksukaan itu?
Kini ia adalah kehangatan yang merangkul,
Kekayaan bumbu yang mekar, gurih yang jujur.
Kenapa? Apa yang berbeda?
Ah, Seporsi mie kari ayam, kau cermin yang
tersembunyi.
Bukankah hidup kita serupa benang-benang mie
yang mengendur?
Ada hal-hal yang dulu kita anggap getir dan harus dihindari,
Situasi yang kita sangka takkan pernah mampu kita nikmati.
Mungkin dulu, bumbu kehidupan itu belum meresap sempurna,
Rasa rempahnya masih kaku, butuh waktu untuk saling menyapa.
Kita bertemu dengan kari ayam kehidupan,
Yang dulu terasa asing, rumit, dan terlalu berani.
Kini, setelah melalui banyak hari dan perubahan hati,
Kuah yang sama itu tiba-tiba terasa cocok di lidah.
Kita tidak lagi melawan, tapi mengikuti ritmenya yang kental.
Rupanya, yang berubah bukanlah rempahnya,
Tapi kedewasaan indra perasa di dalam jiwa.
Kita mulai menemukan keindahan dalam
kompleksitas rasa,
Belajar menerima bahwa hal yang dulu dibenci,
Kini bisa menjadi kenyamanan yang dicari.
Seporsi mie kari ayam.
Penundaan yang berbuah penerimaan.
Menyisakan janji bahwa setiap penolakan hari ini,
Bisa jadi adalah kecintaan yang tertunda di esok hari.
No comments:
Post a Comment