Setiap kali aku berdiri di ambang pintu yang akan segera kukunci untuk terakhir kalinya, ada debar yang tidak pernah berubah. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di dada, tak kasat mata, tak terbahasakan, namun selalu ada. Seolah-olah ada akar di bawah kakiku yang dipaksa lepas sebelum ia sempat menghunjam dalam ke bumi.
Mungkin ini adalah kutukan atau sekadar kebiasaan. Sejak kecil, hidupku adalah tentang berpindah; tentang koper-koper yang tak pernah benar-benar kosong dan perpisahan yang menjadi kawan akrab. Namun anehnya, meski aku tahu aku tak bisa berlama-lama di satu tempat, rasa sesak ini tetap datang dengan intensitas yang sama. Persis, tak ada yang berubah.
Namun, setiap perpisahan selalu terasa berat.
Persinggahan ini bukan sekadar atap. Ia adalah saksi bisu dari sebuah keajaiban. Di sinilah, sejak hari ketiga kelahirannya, buah hatiku mulai menghirup dunia. Dinding-dinding ini telah merekam tangis pertamanya yang memecah sunyi, langkah kaki kecilnya yang belum stabil, hingga kini ia telah melewati seribu hari pertamanya yang penuh warna.
Kepadamu, persinggahan yang sebentar lagi akan menjadi asing:
Terima kasih telah memeluk tumbuh kembang anakku.
Terima kasih telah menjadi saksi bisu bagaimana aku tertatih, jatuh, dan bangkit kembali dalam belajar menjadi seorang ibu.
Jika saja kau adalah makhluk yang bernapas dan memiliki detak jantung, ingin rasanya aku memelukmu erat sekali. Aku ingin kau tahu betapa lelahnya aku di sudut dapurmu, betapa bahagianya aku di atas lantai ruang tamumu, dan betapa hangatnya cinta keluarga kecilku yang pernah mengisi rongga-ronggamu.
Kau telah melihatku di titik terendah dan saat-saat paling bercahaya. Kini, aku harus melangkah, membawa kenangan yang kau jaga selama ini.
Aku titipkan sebagian jiwaku di sela-sela lantai ini, biarkan ia menetap, sementara raga ini harus menemui alamat yang baru.
Tuesday, December 30, 2025
Memorabilia Dinding
Location:
Bali, Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment