Risa berumur sembilan belas tahun, dan baginya, usia itu terasa seperti janji yang belum terbayar. Ia tinggal di sebuah kamar kos sempit di salah satu gang padat di belakang Plaza Gajah Mada. Kamar itu dingin, lembap, dan sering berbau masakan penghuni lain. Tapi setidaknya, kamar itu miliknya sendiri.
Pukul sepuluh malam. Rasa lelah hari ini bukanlah lelah fisik karena mengerjakan tugas kuliah atau freelance desainnya. Ini adalah lelah yang mengendap di rongga dada, lelah karena harus terus menerus menahan diri. Lelah karena seharian berinteraksi, namun tak ada satu pun kata jujur yang terucap dari bibirnya.
Ketika stres mulai mencekik, Risa punya ritualnya. Ia tak akan membuka media sosial atau menelepon siapa pun. Ia akan mengambil jaket tipisnya, memasukkan ponselnya ke saku, dan mulai berjalan kaki.
Ia berjalan menembus keramaian kecil para pedagang kaki lima yang baru buka, melewati suara riuh motor dan bis yang tak henti. Kakinya membawa dia ke tempat yang selalu ia tuju: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan plaza besar itu.
Malam ini, Risa berdiri di tengah jembatan besi itu. Kakinya terasa lega setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Di bawahnya, Jalan Gajah Mada terbentang megah, dipenuhi sungai cahaya yang mengalir. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis merah dan putih yang menari cepat.
Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke langit Jakarta yang pekat. City light yang megah itu terasa ironis. Ribuan jendela bercahaya, menandakan ribuan kehidupan, ribuan cerita, ribuan keluarga yang berkumpul. Namun, di JPO ini, di tengah kemegahan itu, Risa merasa kesepian yang tak terperi.
Ia rindu. Oh, ia sungguh rindu.
Tapi ia tidak tahu apa yang ia rindukan. Bukan rumah, karena rumah orang tuanya di kota kecil dulu juga terasa sunyi. Bukan teman, karena pertemanannya di kampus terasa dangkal dan sebatas tugas.
Risa memejamkan mata. Apakah yang ia rindukan itu adalah suara yang tulus? Genggaman tangan yang tidak menghakimi? Kehangatan yang benar-benar bisa ia peluk tanpa filter?
Ia membuka matanya dan menatap mobil-mobil di bawah. Kecepatan mereka, desibel mesin mereka, semuanya terasa lebih nyata daripada perasaannya sendiri. Di sinilah satu-satunya tempat ia merasa didengarkan. Bukan oleh orang, tapi oleh keramaian yang anonim.
Jika ia berteriak di sini, tak ada yang akan menoleh. Orang-orang akan mengira ia hanya gadis aneh yang menikmati angin malam. Itu sempurna. Karena kesunyian yang disengaja lebih baik daripada kesunyian di tengah keramaian.
Risa mengeluarkan ponselnya, bukan untuk menelepon, tapi untuk menatap layarnya yang gelap.
Kepada siapa aku harus bercerita?
Bahwa aku lelah berpura-pura tahu masa depan.
Bahwa aku takut dengan kota sebesar ini.
Bahwa hati kecilku, yang baru 19 tahun, sudah terasa usang.
Tidak ada nama yang muncul di benaknya. Ia tidak memiliki tempat pulang untuk jiwanya.
Maka, ia memilih untuk berdiri diam, menjadi bagian dari lanskap yang bergerak tanpa peduli. Lampu kota yang megah adalah rahasia terbesar dan satu-satunya pendengar setianya. Setiap malam, ia membisikkan keputusasaannya pada gemuruh mesin dan kilau cahaya yang berputar cepat, tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjawab, tetapi juga tidak akan pernah mengkhianatinya.
Ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Risa tahu waktunya untuk kembali ke kamarnya yang dingin. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bercampur asap dan janji palsu.
Ia berbalik, meninggalkan city light di belakangnya. Di saat ia melangkah menuruni tangga JPO, ia hanya berharap, suatu hari nanti, "rindu" yang samar ini akan menemukan sebuah alamat, sebuah wajah, atau sebuah suara yang akan menyambutnya pulang.
Sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan kaki, mencari JPO lain, dan menjadikan keramaian malam sebagai sahabat kesepiannya.
No comments:
Post a Comment