Lebaran kali ini terasa berbeda. Mungkin bukan hanya hari rayanya, tapi sejak awal Ramadan pun suasananya sudah tak sama. Tahun ini, saya kembali menjalankan ibadah puasa setelah masa menyusui selesai. Di saat yang sama, saya pun telah kembali ke dunia kerja. Kesibukan di lingkungan baru yang mayoritas non-muslim membuat vibes Ramadan kali ini tidak terlalu kental terasa—entah hanya perasaan saya saja atau memang begitu adanya.
Namun, ada hal lain yang membuat tahun ini jauh lebih bermakna.
Selama beberapa tahun terakhir, saya kehilangan rasa antusias dalam menyambut Idulfitri. Saya masih terlarut dalam kesedihan atas berpulangnya Ibu dan Kakak pertama. Bayang-bayang kehilangan itu seolah menutup kegembiraan hari raya. Tapi entah mengapa, tahun ini memori masa kecil bersama keluarga justru bangkit kembali dengan begitu hangat.
Saya ingat betul bagaimana dulu kami sekeluarga berkumpul mengeroyok tumpukan kacang tanah yang sudah direndam air panas. Saya, Bapak, dan kakak-kakak sibuk mengupas kulit arinya, sementara Ibu yang bertugas menggorengnya dengan irisan bawang putih yang harum. Kegiatan itu sangat melelahkan, bisa memakan waktu seharian penuh.
Ada juga kenangan membuat kue ketapang; Ibu yang menyiapkan adonan, lalu kami bergantian memulung dan mengguntingnya. Mengingat itu semua sekarang membawa rasa hangat di hati. Memori-memori sederhana itulah yang kemudian membuat saya terpikir tentang anak saya, Jema.
Saya ingin Jema punya kenangan berharga yang bisa ia simpan selaksa saya sudah tidak ada nanti. Saya ingin dia merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan dulu. Akhirnya, tahun ini saya memutuskan untuk membuat kue Lebaran sendiri untuk dinikmati di rumah.
Meski harus menunggu hari libur kerja tiba, Jema yang baru berusia 27 bulan ternyata sangat bersemangat. Kami tidak membuat banyak macam, hanya palm cheese cookies kesukaannya dan brownies crispy. Jema benar-benar terlibat dalam setiap prosesnya. Dia ikut menuangkan bahan sesuai instruksi, memperhatikan saya mengaduk, lalu dengan telaten membantu membalurkan bulatan adonan ke dalam gula palem dan menyusunnya di atas loyang. Saat membuat brownies crispy pun, jemari kecilnya sibuk menaburkan sprinkle di atas adonan.
Saya melihat binar bahagia di matanya. Mungkin itulah yang saya rasakan dulu; meski lelah duduk seharian, proses itu menjadi memori yang sangat indah saat semuanya kini sudah tak lagi sama.
Tahun ini, Idulfitri saya terasa memiliki tujuan yang lebih dalam: menciptakan momen keluarga untuk Jema. Saya tidak tahu apakah dia akan mengingat detail kejadian ini saat dewasa nanti, tapi saya yakin perasaan bahagia itu terekam kuat di alam bawah sadarnya.
Terima kasih, Jema, sudah hadir dan membuat hari-hari Ibu menjadi jauh lebih berarti dan lebih baik.
No comments:
Post a Comment