Wednesday, May 6, 2026

Menjadi Seorang Ibu

Semuanya dimulai dari masa kehamilan yang saya jalani dengan penuh kesadaran dan persiapan. Jauh sebelum menikah, saya sudah mempersiapkan diri. Saya rajin membaca, mengikuti seminar parenting, bahkan sempat beberapa kali menghadiri pertemuan “Rangkul” di tahun 2017. Sebelum melahirkan pun, saya dan suami mengikuti baby class dengan tekun. Saya pikir, bekal teori ini akan menjadi perisai kuat saat praktik tiba.

Ternyata, semua teori itu terasa hanya teori.

Ketika saya benar-benar menjadi ibu untuk pertama kalinya, semua ilmu yang saya miliki lenyap tertelan oleh rasa takut yang entah dari mana sumbernya. Setiap tindakan yang saya ambil, meskipun saya tahu itu benar dan sesuai buku, selalu diselimuti rasa cemas. Saya takut salah menggendong, takut salah menyusui, takut salah mendiamkan.

Namun jauh sebelum sampai ke masa itu, perjalanan menuju persalinan sendiri sudah penuh kecemasan.

~**~

Pertama kali saya mendapat kontraksi palsu di usia kehamilan 36 minggu. Saat itu, selepas isya, saya sendirian di rumah karena suami saya ada urusan di luar. Saya langsung meminta dia pulang karena saya pikir saya akan melahirkan. Sejak selepas isya sampai subuh saya tidak bisa tidur karena rasa sakit yang datang dan pergi. Dalam kondisi itu saya meminta bantuan teman saya yang juga seorang bidan untuk memeriksa apakah sudah ada pembukaan. Ternyata belum ada pembukaan sama sekali. Katanya itu baru kontraksi palsu.

Dalam hati saya berpikir, kalau kontraksi palsu saja sudah seperti ini sakitnya, bagaimana nanti kontraksi yang asli dan proses bersalinnya. Pikiran itu terus berputar dan membuat saya cemas.

Beberapa hari setelah itu saya masih merasakan kontraksi palsu, lalu memasuki usia kehamilan 37 sampai 39 minggu tidak ada kontraksi sama sekali. Tidak ada tanda apa pun. Hanya penantian yang panjang dan sunyi.

USG terakhir saya dilakukan saat usia kehamilan sudah masuk 39 minggu. Dokter menanyakan kepada saya maunya bagaimana, dan mengatakan jika ingin operasi caesar karena usia kehamilan sudah cukup, tinggal dibuatkan surat saja. Saya masih kekeh ingin melahirkan normal. Dokter pun mengiyakan keputusan saya, dan saya diminta menunggu sampai tanggal 8 Desember. Jika belum juga ada kontraksi, akan diambil tindakan.

Sejak saat itu saya menjalani hari-hari dengan cemas. Saya terus berkomunikasi dengan bayi dalam perut saya, berharap ia segera memberi tanda untuk lahir. Setiap hari terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi sangat saya nantikan.

Sampai akhirnya Senin, 4 Desember 2023 datang.

Pukul 04.30 WITA waktu subuh, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kontraksi muncul dan hilang dengan jeda 1 sampai 2 jam. Hari itu seharusnya saya menemani suami ke RSUD Bali Mandara untuk mengambil jadwal operasi impaksi gigi, tetapi saya terpaksa tidak ikut karena takut kontraksi tiba-tiba.

Setiap kontraksi datang saya mengelus perut saya dan berkata ke bayi saya, “kalo mau lahiran hari ini aja yuk, mumpung baba cuti.”

Siang hari sekitar jam 12 suami saya pulang dari rumah sakit membawakan makan siang, tapi saya baru makan sekitar pukul 14, di sela-sela kontraksi yang masih datang dan pergi. 

Setelah itu saya mulai merasa mengantuk, karena sejak hamil besar tidur sudah tidak pernah benar-benar nyaman dan pulas. Saya bilang ke suami mau istirahat dulu sebentar. Baru saja saya memejamkan mata, tiba-tiba terdengar seperti ada yang meletus dari jalan lahir saya, benar-benar seperti suara balon pecah.

Tidak lama setelah itu saya merasa seperti buang air kecil. Saya langsung buru-buru ke kamar mandi, dan saat itu saya melihat sudah ada air yang mengalir di betis saya bercampur sedikit darah. Ketika dicek, benar saja sudah berdarah.

Saya berusaha tetap tenang, lalu langsung menelpon teman saya yang bidan. Dari cerita saya tentang suara seperti meletus dan air bercampur darah yang keluar, dia menyarankan untuk segera ke rumah sakit karena kemungkinan ketuban sudah pecah.

Saya pun bergegas menuju rumah sakit dengan barang bawaan yang tidak terlalu banyak. Tapi karena naik motor dalam keadaan hamil besar dan membawa barang, semuanya terasa cukup ribet dan penuh. Di perjalanan saya berusaha menahan sakit dengan mengatur napas setiap kali kontraksi datang. Segala yang sudah saya pelajari di kelas prenatal yoga saat itu benar-benar terpakai.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung dibawa ke ruang observasi. Setelah diperiksa, ternyata baru bukaan 3. Bidan mengobservasi selama satu jam, jika bukaan tidak bertambah maka saya akan dipulangkan.

Setelah satu jam, sekitar pukul 6 sore, alhamdulillah bukaan saya bertambah menjadi 4. Semakin naik bukaan, semakin intens kontraksi yang muncul. Saya masih terus berusaha mengatur napas dan mengingat semua yang sudah saya pelajari di kelas prenatal yoga, dan saat itu saya masih bisa cukup tenang.

Namun ketika bukaan semakin naik, tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk mengejan sendiri. Sementara bidan mengatakan saya belum boleh mengejan kalau bukaan belum lengkap. Saya benar-benar berusaha menahan agar tidak mengejan, meskipun rasanya sangat sulit.

Sampai akhirnya, bukaan lengkap di pukul 20.30. Suami saya segera memanggil bidan. Bidan sempat agak kaget karena proses bukaan saya cukup cepat untuk anak pertama—awalnya diprediksi baru akan melahirkan tengah malam atau dini hari.

Setelah semua persiapan selesai, saya diminta untuk mengejan. Alhamdulillah, hanya dengan satu kali tarikan napas, anak saya meluncur keluar dan langsung menangis, dengan tali pusar yang terlilit seperti mengenakan selempang miss universe.

Seketika itu juga semua rasa sakit yang begitu hebat hilang saat bayi saya keluar dari perut. Anak saya kemudian langsung dibawa oleh bidan untuk dibersihkan, sementara saya dilanjutkan dengan proses jahit sampai selesai.

~**~

Prosesnya selesai. Bayi saya sudah lahir. Saya dan suami menyaksikan tangisan haru, momen ajaib yang sering diceritakan di film-film. Tapi air mata yang keluar bukan air mata kebahagiaan yang meluap. Justru yang saya rasakan adalah sesuatu yang asing: sebuah kekosongan aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Dua jam setelah melahirkan, saya memberanikan diri bicara dengan suami. “Perasaan saya aneh,” kata saya. “Saya melihat anak kita, tapi tidak ada perasaan yang orang-orang ceritakan. Semuanya terasa hampa.” Itu adalah pengakuan yang sulit, tetapi dia mendengarkan.

Kami pulang dari rumah sakit, dan realita langsung menghantam. Suami harus segera kembali bekerja. Di rumah, hanya ada saya dan ibu mertua. Masalahnya, ibu mertua tidak berani memegang atau mengurus bayi baru lahir. Jadi sejak hari pertama, saya benar-benar mengurus bayi ini sendirian—mulai dari memandikan, mengganti popok, hingga begadang. Ibu mertua membantu urusan rumah tangga, dan itu pun hanya berlangsung hanya seminggu.

Di tengah kelelahan fisik, jahitan belum kering dan masih berdarah-darah, kesulitan terbesar adalah menyusui. Anak saya tidak mau direct breastfeeding (DBF). ASI baru keluar setelah hari ketiga, dan itu pun harus dengan bantuan pumping. Tekanan semakin menjadi-jadi karena pertanyaan dari luar: “ASInya sudah banyak?”, “Cukup tidak susunya?” Rasanya seperti saya sedang dihakimi atas sesuatu yang sangat sulit saya kendalikan.

Tiga bulan pertama adalah masa yang gelap. Kekosongan itu masih terus ada, selalu siap memicu tangisan tanpa sebab. Saya sering menangis tanpa tahu apa yang saya tangisi. Saya tahu ini tidak ideal, tapi saya tidak tahu bagaimana menghentikannya.

Baru setelah anak saya menginjak usia tiga bulan, saya mulai merasakan koneksi yang nyata. Perasaan sayang itu akhirnya datang, perlahan, tidak instan. Seperti hadiah yang terlambat.

Dalam kekacauan emosional dan fisik itu, saya beruntung memiliki suami yang sangat suportif. Dia selalu siaga. Ketika anak bangun malam, dia ikut terbangun. Dia tidak pernah membiarkan saya berjuang sendirian. Meskipun besok harus bekerja pagi, dia tetap membantu mengganti popok atau menggendong. Dukungan nyata seperti itu adalah alasan saya bisa melewati tiga bulan pertama yang gelap.

Menyadari kondisi saya, suami juga sering mendorong saya untuk keluar rumah di akhir pekan atau hari libur. Saat anak baru dua bulan, dia bahkan menyuruh saya menonton film sendiri. Saya pergi menonton film Agak Laen, meninggalkan bayi bersama suami dengan sudah menyiapkan stok ASIP.

Sepulang dari bioskop, saya merasa sedikit lebih ringan. Bahkan ASI saya terasa lebih lancar setelah itu. Tapi masalah tidak berhenti di situ. ASI yang deras justru membuat payudara saya sering bengkak, keras, bahkan kadang disertai demam ringan. Rasanya tubuh saya terus diuji dari berbagai sisi.

Jauh sebelum menikah, kami memang sudah memutuskan untuk menunda kehamilan karena sadar bahwa memiliki anak adalah perjalanan yang berat. Kami sudah berdiskusi, membaca, dan merencanakan. Tapi tidak ada satu pun teori yang benar-benar bisa menggambarkan beratnya realita ini.

Rasa lelah, kosong, cemas, ditambah nyeri fisik menyusui adalah babak yang harus saya lewati. Tapi perlahan, dengan dukungan suami dan hadirnya senyum kecil anak saya, saya mulai melihat jalan keluar dari kegelapan itu. Ini bukan akhir yang manis, tapi awal yang jujur dan diperjuangkan.

Di tengah semua itu, tanggung jawab sebagai ibu tetap berjalan. Saya memaksakan diri untuk stimulasi, membaca buku, mencari ide sesuai usia anak, memastikan milestone tercapai. Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, MPASI, semua saya pelajari lewat Buku KIA , aplikasi parenting, bahkan podcast dengan narsum para expert dibidang paranting, dokter, psikolog bahkan ustad, seolah saya harus menjadi ibu yang sempurna dalam data dan fakta.

~**~

Namun di balik semua itu, saya mulai sadar bahwa kekosongan yang saya rasakan sejak awal mungkin adalah pintu terbukanya inner child saya. Saya mudah ter-trigger oleh hal-hal kecil dari anak saya, hal yang sebenarnya sepele tapi cukup untuk mengguncang emosi saya. Saya berjanji tidak ingin mengulang pola asuh masa lalu, tapi justru menyadari saya kadang tanpa sadar mulai mengulangnya.

Mengasuh anak sambil membawa luka masa kecil ternyata sesulit itu. Kadang saya merasa ingin menyerah, karena beban untuk menjadi ibu yang lebih baik terasa sangat berat.

Tapi anak saya begitu berharga. Tatapan polosnya selalu mengingatkan saya untuk terus berjuang. Saya tidak menyalahkan orang tua saya, tapi saya harus mencari cara untuk menyembuhkan diri agar tidak menurunkan luka itu ke anak saya.

Sekarang anak saya sudah dua tahun setengah. Perjalanan ini masih panjang. Setiap hari selalu ada tantangan baru.

Dua tahun ini terasa seperti seperempat abad. Dari kehampaan, kesulitan menyusui, kecemasan, sampai akhirnya perlahan menemukan cinta yang tumbuh pelan tapi kuat.

Saya belajar bahwa cinta keibuan tidak selalu datang secara instan, tapi ada harus  dibangun lewat tindakan kecil sehari-hari: begadang, pumping, membaca di tengah lelah, dan kehadiran suami yang tidak pernah pergi.

Kini saya tahu, saya adalah ibu yang sedang berproses. Dan itu tidak membuat saya menjadi ibu yang buruk.

Kalau saya bisa bicara pada diri saya dua tahun lalu, saya akan berkata: tidak apa-apa jika kamu belum merasakan apa-apa sekarang. Pelan-pelan, semuanya akan tumbuh. Kamu akan melewatinya.

Dan untuk suamiku, terima kasih karena selalu menjadi jangkar. Terima kasih karena tidak pernah membiarkan saya berjalan sendiri. Kamu adalah support system terbaik dalam perjalanan ini.

No comments:

Post a Comment