Setiap kali aku berdiri di ambang pintu yang akan segera kukunci untuk terakhir kalinya, ada debar yang tidak pernah berubah. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di dada, tak kasat mata, tak terbahasakan, namun selalu ada. Seolah-olah ada akar di bawah kakiku yang dipaksa lepas sebelum ia sempat menghunjam dalam ke bumi.
Mungkin ini adalah kutukan atau sekadar kebiasaan. Sejak kecil, hidupku adalah tentang berpindah; tentang koper-koper yang tak pernah benar-benar kosong dan perpisahan yang menjadi kawan akrab. Namun anehnya, meski aku tahu aku tak bisa berlama-lama di satu tempat, rasa sesak ini tetap datang dengan intensitas yang sama. Persis, tak ada yang berubah.
Namun, setiap perpisahan selalu terasa berat.
Persinggahan ini bukan sekadar atap. Ia adalah saksi bisu dari sebuah keajaiban. Di sinilah, sejak hari ketiga kelahirannya, buah hatiku mulai menghirup dunia. Dinding-dinding ini telah merekam tangis pertamanya yang memecah sunyi, langkah kaki kecilnya yang belum stabil, hingga kini ia telah melewati seribu hari pertamanya yang penuh warna.
Kepadamu, persinggahan yang sebentar lagi akan menjadi asing:
Terima kasih telah memeluk tumbuh kembang anakku.
Terima kasih telah menjadi saksi bisu bagaimana aku tertatih, jatuh, dan bangkit kembali dalam belajar menjadi seorang ibu.
Jika saja kau adalah makhluk yang bernapas dan memiliki detak jantung, ingin rasanya aku memelukmu erat sekali. Aku ingin kau tahu betapa lelahnya aku di sudut dapurmu, betapa bahagianya aku di atas lantai ruang tamumu, dan betapa hangatnya cinta keluarga kecilku yang pernah mengisi rongga-ronggamu.
Kau telah melihatku di titik terendah dan saat-saat paling bercahaya. Kini, aku harus melangkah, membawa kenangan yang kau jaga selama ini.
Aku titipkan sebagian jiwaku di sela-sela lantai ini, biarkan ia menetap, sementara raga ini harus menemui alamat yang baru.
Tuesday, December 30, 2025
Memorabilia Dinding
Saturday, December 13, 2025
Seporsi Mie Kari Ayam: Pergulatan Rasa dan Waktu
Sejak dulu, ia hanyalah rasa yang asing,
Tertera jelas di daftar, namun tak pernah kuundang.
Seporsi mie kari ayam, sebuah paradoks lidah,
Bagaimana ribuan hati menjadikannya debar yang
indah?
Aku mencoba, sekali, dua kali,
Namun yang kudapat hanya aroma yang tak sejiwa,
Gumpalan rempah yang terasa keliru,
Kenapa nikmat itu begitu jauh dariku?
Ia kuanggap sebagai babak yang terlewat,
Menu yang tak pernah kuizinkan singgah di serat.
Tahun-tahun berlayar, peta hidup berubah-ubah,
Hingga suatu hari, sebuah bisikan tak terduga.
Ingin mencoba lagi? tanyanya pelan.
Mie kari ayam, mengapa kini kau hadir
di pelupuk ingatan?
Panci mengepul, aroma itu kembali menyeruak,
Namun kali ini, entah mengapa, ia tidak lagi
mendesak.
Kuaduk perlahan, benang-benang kuning dan kuah keemasan,
Satu suapan. Terkejut.
Ini bukan rasa yang dulu kurasa.
Dimana pedih yang kuingat? Dimana ketidaksukaan itu?
Kini ia adalah kehangatan yang merangkul,
Kekayaan bumbu yang mekar, gurih yang jujur.
Kenapa? Apa yang berbeda?
Ah, Seporsi mie kari ayam, kau cermin yang
tersembunyi.
Bukankah hidup kita serupa benang-benang mie
yang mengendur?
Ada hal-hal yang dulu kita anggap getir dan harus dihindari,
Situasi yang kita sangka takkan pernah mampu kita nikmati.
Mungkin dulu, bumbu kehidupan itu belum meresap sempurna,
Rasa rempahnya masih kaku, butuh waktu untuk saling menyapa.
Kita bertemu dengan kari ayam kehidupan,
Yang dulu terasa asing, rumit, dan terlalu berani.
Kini, setelah melalui banyak hari dan perubahan hati,
Kuah yang sama itu tiba-tiba terasa cocok di lidah.
Kita tidak lagi melawan, tapi mengikuti ritmenya yang kental.
Rupanya, yang berubah bukanlah rempahnya,
Tapi kedewasaan indra perasa di dalam jiwa.
Kita mulai menemukan keindahan dalam
kompleksitas rasa,
Belajar menerima bahwa hal yang dulu dibenci,
Kini bisa menjadi kenyamanan yang dicari.
Seporsi mie kari ayam.
Penundaan yang berbuah penerimaan.
Menyisakan janji bahwa setiap penolakan hari ini,
Bisa jadi adalah kecintaan yang tertunda di esok hari.