Tuesday, December 30, 2025

Memorabilia Dinding

Setiap kali aku berdiri di ambang pintu yang akan segera kukunci untuk terakhir kalinya, ada debar yang tidak pernah berubah. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di dada, tak kasat mata, tak terbahasakan, namun selalu ada. Seolah-olah ada akar di bawah kakiku yang dipaksa lepas sebelum ia sempat menghunjam dalam ke bumi.
​Mungkin ini adalah kutukan atau sekadar kebiasaan. Sejak kecil, hidupku adalah tentang berpindah; tentang koper-koper yang tak pernah benar-benar kosong dan perpisahan yang menjadi kawan akrab. Namun anehnya, meski aku tahu aku tak bisa berlama-lama di satu tempat, rasa sesak ini tetap datang dengan intensitas yang sama. Persis, tak ada yang berubah.
​Namun, setiap perpisahan selalu terasa berat.
​Persinggahan ini bukan sekadar atap. Ia adalah saksi bisu dari sebuah keajaiban. Di sinilah, sejak hari ketiga kelahirannya, buah hatiku mulai menghirup dunia. Dinding-dinding ini telah merekam tangis pertamanya yang memecah sunyi, langkah kaki kecilnya yang belum stabil, hingga kini ia telah melewati seribu hari pertamanya yang penuh warna.
​Kepadamu, persinggahan yang sebentar lagi akan menjadi asing:
​Terima kasih telah memeluk tumbuh kembang anakku.
​Terima kasih telah menjadi saksi bisu bagaimana aku tertatih, jatuh, dan bangkit kembali dalam belajar menjadi seorang ibu.
​Jika saja kau adalah makhluk yang bernapas dan memiliki detak jantung, ingin rasanya aku memelukmu erat sekali. Aku ingin kau tahu betapa lelahnya aku di sudut dapurmu, betapa bahagianya aku di atas lantai ruang tamumu, dan betapa hangatnya cinta keluarga kecilku yang pernah mengisi rongga-ronggamu.
​Kau telah melihatku di titik terendah dan saat-saat paling bercahaya. Kini, aku harus melangkah, membawa kenangan yang kau jaga selama ini.
Aku titipkan sebagian jiwaku di sela-sela lantai ini, biarkan ia menetap, sementara raga ini harus menemui alamat yang baru.

Saturday, December 13, 2025

Seporsi Mie Kari Ayam: Pergulatan Rasa dan Waktu

 ​Sejak dulu, ia hanyalah rasa yang asing,

Tertera jelas di daftar, namun tak pernah kuundang.

Seporsi mie kari ayam, sebuah paradoks lidah,

Bagaimana ribuan hati menjadikannya debar yang

indah?

Aku mencoba, sekali, dua kali,

Namun yang kudapat hanya aroma yang tak sejiwa,

Gumpalan rempah yang terasa keliru,

Kenapa nikmat itu begitu jauh dariku?

Ia kuanggap sebagai babak yang terlewat,

Menu yang tak pernah kuizinkan singgah di serat.

​Tahun-tahun berlayar, peta hidup berubah-ubah,

Hingga suatu hari, sebuah bisikan tak terduga.

Ingin mencoba lagi? tanyanya pelan.

Mie kari ayam, mengapa kini kau hadir 

di pelupuk ingatan?

Panci mengepul, aroma itu kembali menyeruak,

Namun kali ini, entah mengapa, ia tidak lagi 

mendesak.

Kuaduk perlahan, benang-benang kuning dan kuah keemasan,

Satu suapan. Terkejut.

Ini bukan rasa yang dulu kurasa.

Dimana pedih yang kuingat? Dimana ketidaksukaan itu?

Kini ia adalah kehangatan yang merangkul,

Kekayaan bumbu yang mekar, gurih yang jujur.

Kenapa? Apa yang berbeda?

​Ah, Seporsi mie kari ayam, kau cermin yang

tersembunyi.

Bukankah hidup kita serupa benang-benang mie

yang mengendur?

Ada hal-hal yang dulu kita anggap getir dan harus dihindari,

Situasi yang kita sangka takkan pernah mampu kita nikmati.

Mungkin dulu, bumbu kehidupan itu belum meresap sempurna,

Rasa rempahnya masih kaku, butuh waktu untuk saling menyapa.

​Kita bertemu dengan kari ayam kehidupan,

Yang dulu terasa asing, rumit, dan terlalu berani.

Kini, setelah melalui banyak hari dan perubahan hati,

Kuah yang sama itu tiba-tiba terasa cocok di lidah.

Kita tidak lagi melawan, tapi mengikuti ritmenya yang kental.

​Rupanya, yang berubah bukanlah rempahnya,

Tapi kedewasaan indra perasa di dalam jiwa.

Kita mulai menemukan keindahan dalam

kompleksitas rasa,

Belajar menerima bahwa hal yang dulu dibenci,

Kini bisa menjadi kenyamanan yang dicari.

​Seporsi mie kari ayam.

Penundaan yang berbuah penerimaan.

Menyisakan janji bahwa setiap penolakan hari ini,

Bisa jadi adalah kecintaan yang tertunda di esok hari.

Monday, December 8, 2025

Lampu Kota dan Kesunyian Sejati

​Risa berumur sembilan belas tahun, dan baginya, usia itu terasa seperti janji yang belum terbayar. Ia tinggal di sebuah kamar kos sempit di salah satu gang padat di belakang Plaza Gajah Mada. Kamar itu dingin, lembap, dan sering berbau masakan penghuni lain. Tapi setidaknya, kamar itu miliknya sendiri.

​Pukul sepuluh malam. Rasa lelah hari ini bukanlah lelah fisik karena mengerjakan tugas kuliah atau freelance desainnya. Ini adalah lelah yang mengendap di rongga dada, lelah karena harus terus menerus menahan diri. Lelah karena seharian berinteraksi, namun tak ada satu pun kata jujur yang terucap dari bibirnya.

​Ketika stres mulai mencekik, Risa punya ritualnya. Ia tak akan membuka media sosial atau menelepon siapa pun. Ia akan mengambil jaket tipisnya, memasukkan ponselnya ke saku, dan mulai berjalan kaki.

​Ia berjalan menembus keramaian kecil para pedagang kaki lima yang baru buka, melewati suara riuh motor dan bis yang tak henti. Kakinya membawa dia ke tempat yang selalu ia tuju: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan plaza besar itu.

​Malam ini, Risa berdiri di tengah jembatan besi itu. Kakinya terasa lega setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Di bawahnya, Jalan Gajah Mada terbentang megah, dipenuhi sungai cahaya yang mengalir. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis merah dan putih yang menari cepat.
​Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke langit Jakarta yang pekat. City light yang megah itu terasa ironis. Ribuan jendela bercahaya, menandakan ribuan kehidupan, ribuan cerita, ribuan keluarga yang berkumpul. Namun, di JPO ini, di tengah kemegahan itu, Risa merasa kesepian yang tak terperi.
​Ia rindu. Oh, ia sungguh rindu.
​Tapi ia tidak tahu apa yang ia rindukan. Bukan rumah, karena rumah orang tuanya di kota kecil dulu juga terasa sunyi. Bukan teman, karena pertemanannya di kampus terasa dangkal dan sebatas tugas.

​Risa memejamkan mata. Apakah yang ia rindukan itu adalah suara yang tulus? Genggaman tangan yang tidak menghakimi? Kehangatan yang benar-benar bisa ia peluk tanpa filter?
​Ia membuka matanya dan menatap mobil-mobil di bawah. Kecepatan mereka, desibel mesin mereka, semuanya terasa lebih nyata daripada perasaannya sendiri. Di sinilah satu-satunya tempat ia merasa didengarkan. Bukan oleh orang, tapi oleh keramaian yang anonim.

​Jika ia berteriak di sini, tak ada yang akan menoleh. Orang-orang akan mengira ia hanya gadis aneh yang menikmati angin malam. Itu sempurna. Karena kesunyian yang disengaja lebih baik daripada kesunyian di tengah keramaian.
​Risa mengeluarkan ponselnya, bukan untuk menelepon, tapi untuk menatap layarnya yang gelap.
​Kepada siapa aku harus bercerita?
​Bahwa aku lelah berpura-pura tahu masa depan.
Bahwa aku takut dengan kota sebesar ini.
Bahwa hati kecilku, yang baru 19 tahun, sudah terasa usang.

​Tidak ada nama yang muncul di benaknya. Ia tidak memiliki tempat pulang untuk jiwanya.
​Maka, ia memilih untuk berdiri diam, menjadi bagian dari lanskap yang bergerak tanpa peduli. Lampu kota yang megah adalah rahasia terbesar dan satu-satunya pendengar setianya. Setiap malam, ia membisikkan keputusasaannya pada gemuruh mesin dan kilau cahaya yang berputar cepat, tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjawab, tetapi juga tidak akan pernah mengkhianatinya.

​Ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Risa tahu waktunya untuk kembali ke kamarnya yang dingin. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bercampur asap dan janji palsu.
​Ia berbalik, meninggalkan city light di belakangnya. Di saat ia melangkah menuruni tangga JPO, ia hanya berharap, suatu hari nanti, "rindu" yang samar ini akan menemukan sebuah alamat, sebuah wajah, atau sebuah suara yang akan menyambutnya pulang.

​Sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan kaki, mencari JPO lain, dan menjadikan keramaian malam sebagai sahabat kesepiannya.