Sebelum lanjut, kalau ada yang membaca tulisan ini, kalian bebas berasumsi tentang apapun. Tulisan ini bukan hanya tentang satu hal, bukan juga tentang satu kejadian, dan bukan tentang satu orang. Ada banyak hal yang bercampur di kepala saya beberapa hari belakangan ini, mungkin bahkan sudah jauh lebih lama dari itu. Jadi, kalau tulisan ini terasa seperti saya sedang melompat dari satu hal ke hal lain, memang seperti itulah adanya.
Saya hanya ingin mengosongkan kepala dan hati saya sejujur mungkin. Mungkin tulisan ini tidak punya alur yang jelas, mungkin juga akan terasa berantakan. Tapi memang seperti itulah isi kepala saya beberapa hari belakangan ini. Berantakan.
Hanya ini yang bisa saya lakukan tanpa penghakiman secara langsung. Saya mampu menuangkan semuanya tanpa ada yang menyela atau membandingkan hidupnya ketika saya sedang bercerita keluh kesah saya.
Belakangan ini saya merasakan banyak kekecewaan, marah, dan kesedihan yang cukup menguras mental saya. Entah kenapa saya mulai berpikir banyak hal yang saya korbankan. Padahal sejak awal, saya merasa tidak pernah ada masalah dengan segala keputusan ini. Walau terkadang memang banyak hal yang tidak didengar dari saya. Semua hal yang saya bicarakan seolah tidak ada yang mendengar atau mengindahkan, bahkan dalam bentuk usaha yang nyata.
Entah saya yang kurang bersyukur, atau benar memang saya tidak pernah didengar, atau kami yang berbeda. Bukan satu dua kali, tapi saya benar-benar merasa muak.
Saya lelah sekali menangis sendirian, seolah hanya saya yang berusaha secara aksi, bukan angan-angan. Tidak ada yang berubah. Semua masukan yang saya katakan tidak ada yang dijalankan. Saya kelelahan.
Sejak 2017 saya benar-benar berada di lingkungan yang tidak ada satu orang pun yang mengenal baik siapa saya. Tapi ketika di Denpasar, saya tidak perlu berbaur dengan siapapun. Bahkan tidak ada juga yang mau mengetahui saya lebih dalam.
Hidup jadi perempuan di perantauan, kini hanya suami saya yang pulang. Saya? Saya masih tetap di tempat asing.
Perbedaan merantau kali ini, saya berusaha mengikuti segala hal sosialisasi sebisa saya, hanya karena saya berusaha menghormati apa yang ada di tempat tinggal saya sekarang. Saya berpikir, sebagai orang yang beradab, berpendidikan, dan bermoral, memang sudah seharusnya itu saya lakukan. Walau ketika di kampung halaman saya sendiri, saya menjadi seorang yang tidak mau bersosialisasi sama sekali.
Setelah saya pikir-pikir, sepertinya ini hanya bagian dari bertahan hidup, karena saya benar-benar tidak pernah menyukainya.
Namun setelah apa yang sudah saya lakukan, apakah ada yang berusaha menyesuaikan hidupnya dengan saya?
Entahlah, yang saya rasakan tidak ada.
Ketika saya mampu bertahan, semua orang akan mengira saya baik-baik saja. Ya, memang itu salah saya. Tapi kenapa lagi-lagi harus saya yang merasa bersalah?
Saya hanya melakukan apa yang memang harus saya lakukan untuk diri saya sendiri. Tapi apakah mereka pernah bertanya?
Bagaimana saya?
Apakah saya baik-baik saja?
Apakah saya perlu sesuatu?
Apakah kita bisa mencari jalan keluar ini bersama-sama?
Apakah pernah ada yang mengatakan, “Saya butuh pendapat kamu. Bagaimana cara agar kita tidak berada dalam situasi ini terus-menerus?”
Jawabannya tentu, tidak ada.
malah pernah ada yang berkata kepada saya, tanpa pernah benar benar tau kehidupan saya, sebagaimana saya berusaha menekan segala egoisme saya, tetap bersukur atas apa yang diberi dan yang saya miliki. tapi berani beraninya bilang bahwa saya kurang suportif.
Kali ini saya ingin menunjukkan keegoisan saya dalam tulisan ini, karena sungguh dada saya penuh. Sesak, seperti mau meledak. Tenggorokan saya selalu terasa tercekat, mata berkaca-kaca tiap kali mengingat sepertinya selamanya saya akan sendirian.
Saya lelah.
Beberapa cerita baik yang saya ceritakan tentang mereka benar adanya, namun tidak sedikit yang saya lebih-lebihkan agar mereka terlihat baik.
Saat ini saya sedang tidak ingin menerima nasihat siapapun. Saya benar-benar ingin menunjukkan keegoisan saya yang selama ini terkurung, layaknya Kyubi yang kadang berusaha keluar, namun saya sekuat tenaga menahannya.
Kali ini saya benar-benar rapuh.
Saat ini saya sedang tidak ingin memaafkan siapapun. Saya hanya ingin menunjukkan diri saya, sisi saya yang begitu lelah.
Saya tahu pernah mati bertahun-tahun lalu, pernah hidup kembali, lalu kini saya sekarat lagi.
Adakalanya saya butuh teman, tapi saya tahu saya tidak punya itu. Bahkan sudah tidak mampu untuk berteman kembali. Setelah hal yang saya alami, saya memilih memendamnya sendiri.
Ketidakmampuan saya dalam bersosialisasi pun, katanya, tidak boleh saya menyalahkan orang lain.
Lagi-lagi harus saya menyalahkan diri sendiri.
Lucunya hidup ini.
Beberapa hari belakangan ada satu hal yang mengganggu pikiran saya.
Saya terus bertanya, saya ini pemberani atau justru saya adalah orang paling ketakutan, sehingga saya selalu mencoba menutupi rasa takut saya dengan keberanian itu sendiri?
Saya benci orang penakut.
Kalau memang saya penakut, setidaknya saya selalu punya cara bagaimana mengatasi ketakutan itu sendiri.
Pikiran itu terus berputar di kepala saya.
Kenapa orang-orang bisa takut melakukan hal ini dan itu?
Kenapa ada orang-orang yang tidak berani take a risk?
Itukah cara hidup yang benar, atau saya yang terlalu grasak-grusuk dan tidak punya pertimbangan?
Entahlah.
Kali ini saya sedang tidak mau menyalahkan diri saya.
Setidaknya kali ini.
Saya lelah bergantung pada diri sendiri sejak dulu. Dan sekarang makin enggan bergantung pada siapapun. Berbicara pun sudah tidak punya selera.
Dulu ketika menghadapi perasaan ini, saya mampu untuk pergi traveling sendiri, naik kereta, pergi sendirian, mendaki atau menghilang kemanapun yang saya mau. Berbicara hanya pada orang baru yang tidak dikenal. Itu cukup menyenangkan buat saya.
Sekarang?
Jangan ditanya.
Tentu saja sudah banyak yang berubah.!
Mungkin memang tidak ada inti dari tulisan ini. Tidak ada kesimpulan, tidak ada jawaban, bahkan mungkin tidak ada arah yang jelas. Saya hanya sedang menulis apa yang ada di kepala saya, apa yang terasa penuh di dada saya.
Saya hanya takut jadi bom waktu yang jika tidak dikeluarkan akan meledak.