"Kemarau cepatlah datang"
Kamu ingat hujan pertama kala itu?
Oh, tak apa jika kamu lupa. ..
Biar aku ingatkan kembali.
Malam itu hujan pertama kalian, sekaligus jadi awal pertemuan kalian ketika kamu menginjakan kembali kaki ke tanah Jawa. Dan menghirup polusi Jakarta.
Stasiun kereta pasar minggu baru, duduk seorang perempuan diatas motor matic merah, tepat didepan mini market. Menanti dengan sabar, yang ditunggu tak juga datang, perempuan itu datang lebih awal. Dan yang ditunggu tak tepat waktu. Suara petugas dari stasiun kereta, memberitahu bahwa kereta mengalami gangguan. Perempuan itu masih Setia menunggu, ditemani hujan. Hujan yang kala itu membuatnya gembira. Hujan yang dia syukuri, dan senyum mengembang tak henti-henti.
Hatinya tak karuan, berfikir apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengan orang yang dinanti-nanti selama ini. Apa harus bilang "hai, bagaimana kabar mu? ". Atau harus langsung memeluk saja. Ah tapi tidak, ini tempat umum. Lagi pula masih terlalu canggung. Otaknya tak henti berfikir ini itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa harus gugup? Entahlah.
Dua jam berlalu, tiba tiba ada seseorang yang mencolek perempuan itu. Kaget, karena yang ditunggu sudah ada didepan mata. Tidak bisa berkata apa-apa. Hanya senyum bahagia, yang keluar tanpa bisa dikendalikan. Mata perempuan itu berbinar bahagia. Akhirnya, mereka berjumpa. Dan gerimis masih Setia mengiringinya, butiran yang jatuh ketanah, terdengar Indah, seolah bisa merasakan bahagia dalam hati perempuan itu.
Sepeda motor melaju perlahan, malam itu mereka mengelilingi kota hingga pagi hari, obrolan kecil, sedikit tawa dan sesekali pelukan hangat di lontarkan perempuan itu. Dan itulah hujan pertama kalian, hujan yang Setia menemani dari pergi hingga kembali.
Entah sekarang hujan yang keberapa kali, tapi rintiknya sudah jauh berbeda. Setiap tetesnya menyisakan sedikit luka.
~Februari 2015~
Kamu ingat hujan pertama kala itu?
Oh, tak apa jika kamu lupa. ..
Biar aku ingatkan kembali.
Malam itu hujan pertama kalian, sekaligus jadi awal pertemuan kalian ketika kamu menginjakan kembali kaki ke tanah Jawa. Dan menghirup polusi Jakarta.
Stasiun kereta pasar minggu baru, duduk seorang perempuan diatas motor matic merah, tepat didepan mini market. Menanti dengan sabar, yang ditunggu tak juga datang, perempuan itu datang lebih awal. Dan yang ditunggu tak tepat waktu. Suara petugas dari stasiun kereta, memberitahu bahwa kereta mengalami gangguan. Perempuan itu masih Setia menunggu, ditemani hujan. Hujan yang kala itu membuatnya gembira. Hujan yang dia syukuri, dan senyum mengembang tak henti-henti.
Hatinya tak karuan, berfikir apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengan orang yang dinanti-nanti selama ini. Apa harus bilang "hai, bagaimana kabar mu? ". Atau harus langsung memeluk saja. Ah tapi tidak, ini tempat umum. Lagi pula masih terlalu canggung. Otaknya tak henti berfikir ini itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa harus gugup? Entahlah.
Dua jam berlalu, tiba tiba ada seseorang yang mencolek perempuan itu. Kaget, karena yang ditunggu sudah ada didepan mata. Tidak bisa berkata apa-apa. Hanya senyum bahagia, yang keluar tanpa bisa dikendalikan. Mata perempuan itu berbinar bahagia. Akhirnya, mereka berjumpa. Dan gerimis masih Setia mengiringinya, butiran yang jatuh ketanah, terdengar Indah, seolah bisa merasakan bahagia dalam hati perempuan itu.
Sepeda motor melaju perlahan, malam itu mereka mengelilingi kota hingga pagi hari, obrolan kecil, sedikit tawa dan sesekali pelukan hangat di lontarkan perempuan itu. Dan itulah hujan pertama kalian, hujan yang Setia menemani dari pergi hingga kembali.
Entah sekarang hujan yang keberapa kali, tapi rintiknya sudah jauh berbeda. Setiap tetesnya menyisakan sedikit luka.
~Februari 2015~
No comments:
Post a Comment