Tuesday, November 8, 2016

Paragraf di Bulan Mei

Tentang kita yang sama-sama tidak saling mencinta, tapi memaksakan untuk bersama. kamu yang masih terikat kuat dengan masa lalu mu, dengar sadar mencoba memulai kehidupan baru bersama ku. Tapi kamu juga tau, hati mu belum mau beranjak ke masa depan tapi masih betah terjebak dalam kenangan dan cinta lama mu. Bahkan tangan ku tidak cukup kuat untuk menarik mu dari masa lalu mu. Hadir ku bahkan sangat tidak membantu memberimu hidup baru, atau minimal sekedar cinta baru. Aku menyerah, dengan tetap bertahan aku memilih mencari kenyaman di bahu lain yang bisa sedikit mengobati rasa lelah ketika harus berpayah-payah mengajakmu pergi kemasa depan. Ternyata lagi-lagi aku kalah,  pilihan mencari bahu lain malah menjatuhkan ku. Aku terlalu nyaman bersamanya. Aku lupa, ada kamu yang harus aku ajak pergi dari masa lalu. Dan kita tetap bertahan dalam raga yang selalu bersama, namun hati kami tersekat oleh cinta yang lain. Yang hanya Tuhan dan si pemilik hati nya yang tau. Kamu dan aku tidak sadar, kita bertahan hanya untuk saling menyakiti. Perlahan, semuanya akan terbongkar. Kamu tetap dalam masa lalu mu dan aku kini terjebak cinta yang baru.

Rasanya terlalu lelah berada dalam situasi ini, aku yakin kamu sadar. Kita hanya buang-buang waktu jika terus bersama. Saling menyakiti dengan ego masing-masing.

Jangan berbicara komitmen dengan ku, jika persepsi kita tentang komitmen itu sendiri berbeda. Jangan bicara soal setia denganku, karna setia mu dengan setia ku berbeda. Buat ku "setia bukan bertahan tanpa mengenal yang lain, setia itu adalah ketika kita mengenal banyak yang baik tapi hati ini tetap memilih kamu." Sedangkan setia buat mu "bertahan dengan satu orang tanpa perlu mengenal yang lain". Buat ku itu dipaksa setia, setia memang harus diusahakan karena tidak ada orang yang terlahir dengan setia. Setia itu diperjuangkan. Selama kamu tau tempat pulang, kamu akan selalu bisa menjaga semuanya.
Ego  kita lebih besar. Dan itu yang menyakiti kita.

Aku pernah baca bahwa "cinta adalah ekspresi hati, sedangkan memiliki adalah ekspektasi ego." Kita terjebak dalam ekpektasi ego, sampai lupa bagai mana mengekspresikan cinta itu sendiri.

 Jangan terlalu memaksakan ego kita. Kita sudah tidak punya pondasi untuk membangun hubungan, kepercayaan sudah sama-sama kita runtuhkan. Komunikasi sudah tidak ada yg mau mengerti, kita bicara untuk saling menjawab bukan untuk saling mengerti. Kita tidak akan bisa membangun sebuah "rumah" dengan pondasi yang rusak.

‌ Untuk itu berhentilah. 

No comments:

Post a Comment