Kemarin, lagi-lagi saya mendapat kabar dari kakak kedua saya kalau tensinya tinggi lagi, dan perasaan itu seketika muncul lagi.
Sejak kepergian ibu pada Oktober 2019, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ibu memiliki riwayat sakit jantung, darah tinggi, dan stroke sejak 2014. Kondisinya sempat membaik, tetapi memburuk pada 2017–2019. Ibu meninggal karena pecah pembuluh darah akibat jatuh terpeleset. Dagunya memar, lalu beliau tidak sadarkan diri sampai akhirnya meninggal dunia. Malam sebelum meninggal, ibu mengalami demam tinggi. Sejak saat itu, setiap kali suami atau anak saya demam, saya seperti tiba-tiba dilanda ketakutan yang hebat. Jantung saya terus berdegup kencang, sesekali saya gemetar, dan tentunya diiringi tangis yang tidak berhenti sampai demamnya reda.
Berselang beberapa waktu, pada tahun 2023, kakak perempuan saya juga berpulang karena sakit liver. Walau saya tahu dia sakit karena memendam beban mental yang cukup berat, yang selalu dia ceritakan ketika menelepon saya, beliau pun berpulang sebulan setelah didiagnosis mengidap penyakit liver. Padahal tanda-tandanya sudah ada jauh berbulan-bulan sebelumnya, terlihat dari berat badannya yang menurun drastis. Namun sayangnya, setiap kali dia menelepon saya, saran saya untuk memeriksakan diri ke dokter hanya diiyakan olehnya. Saya juga tidak bisa memaksa karena jarak tempat tinggal kami yang jauh.
Sekarang, perasaan itu terasa berkali-kali lipat lebih menakutkan. Tiap kali mendengar kabar duka, selalu ada bagian dalam diri saya yang ikut berduka. Entah mengapa, saya seperti mampu merasakan kesedihan dan kepedihan yang menyelimuti mereka yang ditinggalkan. Begitu pula ketika saya menerima kabar bahwa keluarga inti saya sedang sakit. Saya tidak kuasa menahan tangis, kehilangan semangat menjalani hari, dan irama jantung saya pun terasa tidak beraturan. Bahkan saat menulis semua ini, tangan saya berkeringat hebat, dada terasa sesak, takut dan sedih bercampur menjadi satu. Gemetar pun muncul ketika pikiran saya mulai membayangkan berbagai skenario terburuk, dan air mata jatuh begitu saja tanpa bisa saya tahan.
Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan saya sejak kepergian ibu dan kakak saya. Saya hanya tahu saya takut. Saya tidak mau ada kematian lagi, walau saya tahu itu tidak mungkin. Tapi kalau boleh saya meminta, jangan sekarang. Beri waktu lebih panjang lagi, Tuhan.
No comments:
Post a Comment