Friday, July 3, 2026

Menjadi Seorang Ibu (bekerja)

 Saya sudah mengalami bagaimana beratnya pertama kali menjadi ibu dan menjadi ibu rumah tangga. Di postingan sebelumnya, walau tidak semua hal saya ceritakan, tapi itu cukup mewakili apa yang saya alami selama menjadi ibu dan IRT.

Namun, di awal 2026 ini, saya kembali memulai karier yang sempat terhenti karena keputusan untuk fokus pada kehamilan dan 1.000 hari pertama anak kami.

Saya masih ingat ketika dinyatakan lolos interview dan bisa mulai bekerja pada Senin, 19 Januari 2026. Perasaan itu seperti sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan. Excited, bangga, dan bersyukur. Di usia yang tentu sudah tidak muda lagi untuk kriteria di negara ini, ternyata saya masih mampu bersaing.

Tapi di sisi lain, sepanjang perjalanan pulang saya mengalami pergolakan batin. Senang, sekaligus gelisah dan sedih di waktu yang bersamaan. Karena saya merasa akan berpisah dengan anak saya. Hari-hari yang biasanya kami lalui bersama akan berubah.

Sesampainya di rumah, saya langsung mengajak anak saya berbicara. Saya memberi tahu bahwa sebentar lagi keadaan akan berbeda. Saya tahu ini bukan hal yang mudah untuk dipahami oleh anak yang saat itu baru berusia 2 tahun 1 bulan. Apalagi kami baru pindah rumah belum genap sebulan, ditambah lagi aktivitas kami akan berubah dan pengasuh utamanya pun berganti.

Seolah mengerti apa yang saya katakan, dia hanya menatap saya. Di matanya ada kebingungan. Namun, beberapa saat kemudian dia tersenyum dan kembali bermain.

Sejak hari itu, setiap ada kesempatan untuk mengobrol, saya selalu berusaha memberi tahunya tentang perubahan yang akan terjadi. Saya ingin dia pelan-pelan terbiasa dengan kenyataan bahwa nanti Ibu tidak akan selalu ada di rumah setiap saat.

Sampai akhirnya hari itu tiba. Hari pertama saya masuk kerja.

Dia tidak menangis. Sepertinya dia mengira saya hanya pergi sebentar, karena biasanya ketika dia bersama Baba, saya memang sering keluar beberapa jam untuk me time.

Sore harinya, saat saya pulang, dia menyambut saya. Wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan, tetapi saya tidak bisa membohongi diri sendiri—dia merindukan saya. Begitu juga saya.

Namun, ada satu hal yang berbeda. Entah kenapa hati saya justru terasa lebih lega. Walaupun saya sangat merindukannya, rasanya seperti ada beban yang terangkat. Mungkin selama ini saya terlalu lama berkutat pada rutinitas yang itu-itu saja. Hampir tidak ada interaksi dengan dunia luar, selain bersama anak saya.

Meski begitu, rasa lega itu tidak berarti proses adaptasi menjadi lebih mudah.

~**~

Awal-awal kembali bekerja menjadi masa yang cukup berat untuk saya. Bukan hanya karena saya sedang beradaptasi dengan ritme hidup yang baru, tetapi juga karena saya harus melihat Jema berusaha memahami perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya.

Saat itu usianya baru 25 bulan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dia harus menghadapi kepindahan rumah ke Karangasem, lingkungan yang benar-benar baru, lalu rutinitas yang berubah karena saya kembali bekerja. Saya bisa membayangkan betapa besarnya perubahan itu untuk anak seusianya.

Setiap malam sepulang kerja, sebelum tidur saya selalu mengajaknya mengobrol. Beruntungnya, sejak usianya sekitar 1,5 tahun kami sudah mulai mengenalkan berbagai macam emosi dan mengajarkan nama-namanya. Jadi saya terbiasa bertanya, "Hari ini Jema merasa apa?"

Jawabannya hampir selalu sama.

"Kangen Ibu."

Yang membuat saya bersyukur, dia mampu mengutarakan apa yang dia rasakan.

Beberapa kali dia berkata sambil menangis, "Kangen Ibu. Ibu jangan kerja."

Kalimat itu selalu berhasil membuat hati saya sesak. Saya berusaha memberinya pengertian bahwa Ibu harus bekerja, meski saya tidak tahu apakah dia benar-benar memahami penjelasan saya atau tidak. Dia hanya menjawab dengan polos, "Baba aja yang kerja."

Belum genap dua minggu saya kembali bekerja, saya mulai melihat perubahan lain pada dirinya.

Saya tidak ingin menyebutnya sebagai kemunduran, mungkin lebih tepat jika disebut sebagai penurunan kemampuan (walaupun saya juga tidak yakin apa istilah yang paling tepat). Sejak usia sekitar 22 bulan, Jema sudah tidak BAB di popok lagi. Dia mulai belajar BAB di toilet karena memang sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan, bukan karena saya memaksanya. Saat itu saya masih sepenuhnya di rumah sehingga hampir setiap hari saya bisa mendampinginya dan memberikan stimulasi.

Namun setelah saya kembali bekerja, dia mulai BAB di popok lagi.

Melihat itu, rasa bersalah langsung datang. Saya terus bertanya-tanya apakah keputusan saya untuk bekerja membuatnya kehilangan rasa aman, atau membuat proses belajarnya terganggu. Rasanya sulit untuk tidak menyalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya saya memilih untuk tidak memaksanya. Saya membiarkan dia kembali merasa nyaman dengan popoknya. Sampai hari ini kami masih belajar lagi pelan-pelan. Kadang dia mau BAB di toilet, kadang masih memilih popok.

Dan tidak apa-apa.

Saya percaya setiap anak punya waktunya sendiri, dan tugas saya bukan mengejar target, tetapi tetap mendampinginya dengan sabar.

Di tengah semua proses adaptasi itu, saya justru menyadari sesuatu tentang diri saya sendiri.

Setelah kembali bekerja, saya merasa menjadi ibu yang lebih baik. Tentu ini adalah penilaian yang sangat subjektif. Saya tidak sedang mengatakan bahwa ibu bekerja lebih baik daripada ibu rumah tangga, atau sebaliknya. Ini murni perbandingan antara diri saya yang dulu dengan diri saya yang sekarang. Saya tidak lagi semudah itu marah kepada Jema. Mungkin karena saya kembali memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri, bertemu orang lain, belajar hal-hal baru, dan menjalani peran selain sebagai ibu. Ketika pulang ke rumah, saya datang dengan energi yang berbeda. Waktu bersama Jema terasa lebih berkualitas, dan saya lebih hadir sepenuhnya untuknya.

Meski begitu, menjadi ibu bekerja juga membuat saya memahami bahwa mom guilt itu benar-benar nyata.

Ada banyak hal yang dulu bisa saya kontrol, sekarang tidak lagi.

Misalnya soal makanan. Asupan gula Jema sekarang tidak seketat dulu. Bukan karena saya tidak peduli, tetapi karena saya tidak lagi bersamanya selama 24 jam. Walaupun dia bersama Baba, Baba juga tetap harus bekerja. Akan selalu ada momen ketika perhatian harus terbagi dan ada hal-hal yang luput dari pengawasan.

~**~

Waktu berlalu. Perlahan, anak saya mulai terbiasa dengan semuanya. Dia sudah terlihat bisa beradaptasi, punya teman bermain, dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang di sekitarnya.

Pujian pun mulai datang dari Nenek, Mbah, dan keluarga yang membersamainya. Katanya Jema anak yang jarang menangis, pintar, suka bernyanyi, cerewet, aktif, dan masih banyak lagi.

Tapi dari semua pujian itu, lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri.

Apa benar itu yang dia rasakan? Atau itu hanya caranya melanjutkan hidup setelah semua perubahan yang terjadi?

Rutinitas kami sebelum tidur ternyata masih tetap sama. Kami mengobrol, lalu saya bertanya kepada Jema bagaimana perasaannya hari itu.

Jawabannya sekarang sudah mulai bervariasi, dan sering kali membuat saya kaget sekaligus kagum.

Kadang dia bilang dia tidak suka dengan sesuatu yang terjadi hari itu. Kadang dia bilang dia happy sekali. Kadang dia bilang dia sedih karena sesuatu.

Mendengar jawabannya, saya merasa senang karena dia mau jujur dan mau bercerita kepada saya. Bahkan kalau ada hal yang tidak dia sukai dari saya atau Babanya, dia akan mengatakannya.

Baru saja terjadi kemarin.

Saya harus berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Sejak malam sebelumnya saya sudah memberi tahu Jema kalau besok pagi saya harus berangkat lebih awal. Saya bilang, kalau bisa bangun lebih pagi supaya kita masih sempat bertemu sebelum Ibu berangkat kerja.

Tapi ketika pagi tiba, sepertinya dia masih sangat mengantuk. Kami sudah berusaha membangunkannya, tetapi dia benar-benar tidak bisa bangun. Akhirnya saya berangkat tanpa sempat bertemu dengannya.

Sepulang kerja, Baba bercerita kalau sejak siang Jema tidak mau makan. Dia juga tidak mau jajan, hanya mau makan buah. Padahal biasanya kalau tidak mau makan, dia masih mau ngemil.

Saya mencoba mengajaknya bicara, tetapi dia masih sibuk bermain dan tertawa-tawa seperti biasa.

Akhirnya saya mengajaknya makan di luar sambil bermain. Dia makan dengan lahap sampai habis.

Saat perjalanan pulang, ada hal yang berbeda lagi. Biasanya dia paling senang berdiri di motor dan tidak mau duduk di belakang bersama saya. Tapi hari itu dia justru minta duduk di belakang sambil digendong menghadap saya.

Dia bilang, "Mau dipeluk."

Tentu saja saya menurutinya.

Di dalam hati saya sudah punya firasat kalau semua ini mungkin karena tadi pagi kami tidak sempat bertemu.

Malam sebelum tidur, saya kembali mengingatkan bahwa besok pagi saya masih harus berangkat lebih awal seperti hari ini. Dia mengangguk mengerti.

Lalu seperti biasa saya bertanya tentang perasaannya hari itu. Saya juga mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat dia jawab.

"Kenapa tadi tidak mau makan siang?"

Dia tidak langsung menjawab. Dia diam sejenak.

Lalu, di luar dugaan, dia berkata,

"Jema sedih sekali. Baba tidak bantuin Ibu bangun."

Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya.

Saya memanggil Baba karena ternyata kesedihannya berkaitan dengan Baba.

Baba lalu bertanya lagi, "Baba nggak bantuin Ibu apa?"

Ternyata yang dimaksud Jema adalah dia mengira Baba tidak membantu Ibu membangunkannya sebelum saya berangkat kerja. Di pikirannya, kalau saja Baba membantu membangunkannya, kami pasti masih sempat bertemu sebelum saya berangkat.

Baba kemudian menjelaskan bahwa kami berdua sebenarnya sudah berusaha membangunkannya. Hanya saja hari itu dia memang susah sekali bangun dan akhirnya terbangun lebih siang dari biasanya. Kesedihannya valid. Kami juga meminta maaf karena membuatnya berpikir bahwa kami tidak membangunkannya. Sampai akhirnya dia merasa sedih karena tidak sempat bertemu dengan saya sebelum berangkat kerja. 

saya pun mengatakan "boleh kok sedih, kalau sedih, tetep harus makan ya, kan tetep butuh energi." dia pun mengangguk.

Keesokan paginya dia bangun lebih awal. Sebelum saya berangkat kerja, kami sempat bertemu dan berpamitan seperti biasa.

Dan di momen itu saya baru menyadari, di usianya yang masih sekecil itu ternyata dia sudah bisa membuat sebuah asumsi.

Wednesday, June 3, 2026

Duka Antisipatoris

 Kemarin, lagi-lagi saya mendapat kabar dari kakak kedua saya kalau tensinya tinggi lagi, dan perasaan itu seketika muncul lagi.

Sejak kepergian ibu pada Oktober 2019, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ibu memiliki riwayat sakit jantung, darah tinggi, dan stroke sejak 2014. Kondisinya sempat membaik, tetapi memburuk pada 2017–2019. Ibu meninggal karena pecah pembuluh darah akibat jatuh terpeleset. Dagunya memar, lalu beliau tidak sadarkan diri sampai akhirnya meninggal dunia. Malam sebelum meninggal, ibu mengalami demam tinggi. Sejak saat itu, setiap kali suami atau anak saya demam, saya seperti tiba-tiba dilanda ketakutan yang hebat. Jantung saya terus berdegup kencang, sesekali saya gemetar, dan tentunya diiringi tangis yang tidak berhenti sampai demamnya reda.

Berselang beberapa waktu, pada tahun 2023, kakak perempuan saya juga berpulang karena sakit liver. Walau saya tahu dia sakit karena memendam beban mental yang cukup berat, yang selalu dia ceritakan ketika menelepon saya, beliau pun berpulang sebulan setelah didiagnosis mengidap penyakit liver. Padahal tanda-tandanya sudah ada jauh berbulan-bulan sebelumnya, terlihat dari berat badannya yang menurun drastis. Namun sayangnya, setiap kali dia menelepon saya, saran saya untuk memeriksakan diri ke dokter hanya diiyakan olehnya. Saya juga tidak bisa memaksa karena jarak tempat tinggal kami yang jauh.

Sekarang, perasaan itu terasa berkali-kali lipat lebih menakutkan. Tiap kali mendengar kabar duka, selalu ada bagian dalam diri saya yang ikut berduka. Entah mengapa, saya seperti mampu merasakan kesedihan dan kepedihan yang menyelimuti mereka yang ditinggalkan. Begitu pula ketika saya menerima kabar bahwa keluarga inti saya sedang sakit. Saya tidak kuasa menahan tangis, kehilangan semangat menjalani hari, dan irama jantung saya pun terasa tidak beraturan. Bahkan saat menulis semua ini, tangan saya berkeringat hebat, dada terasa sesak, takut dan sedih bercampur menjadi satu. Gemetar pun muncul ketika pikiran saya mulai membayangkan berbagai skenario terburuk, dan air mata jatuh begitu saja tanpa bisa saya tahan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan saya sejak kepergian ibu dan kakak saya. Saya hanya tahu saya takut. Saya tidak mau ada kematian lagi, walau saya tahu itu tidak mungkin. Tapi kalau boleh saya meminta, jangan sekarang. Beri waktu lebih panjang lagi, Tuhan.

Wednesday, May 6, 2026

Menjadi Seorang Ibu

Semuanya dimulai dari masa kehamilan yang saya jalani dengan penuh kesadaran dan persiapan. Jauh sebelum menikah, saya sudah mempersiapkan diri. Saya rajin membaca, mengikuti seminar parenting, bahkan sempat beberapa kali menghadiri pertemuan “Rangkul” di tahun 2017. Sebelum melahirkan pun, saya dan suami mengikuti baby class dengan tekun. Saya pikir, bekal teori ini akan menjadi perisai kuat saat praktik tiba.

Ternyata, semua teori itu terasa hanya teori.

Ketika saya benar-benar menjadi ibu untuk pertama kalinya, semua ilmu yang saya miliki lenyap tertelan oleh rasa takut yang entah dari mana sumbernya. Setiap tindakan yang saya ambil, meskipun saya tahu itu benar dan sesuai buku, selalu diselimuti rasa cemas. Saya takut salah menggendong, takut salah menyusui, takut salah mendiamkan.

Namun jauh sebelum sampai ke masa itu, perjalanan menuju persalinan sendiri sudah penuh kecemasan.

~**~

Pertama kali saya mendapat kontraksi palsu di usia kehamilan 36 minggu. Saat itu, selepas isya, saya sendirian di rumah karena suami saya ada urusan di luar. Saya langsung meminta dia pulang karena saya pikir saya akan melahirkan. Sejak selepas isya sampai subuh saya tidak bisa tidur karena rasa sakit yang datang dan pergi. Dalam kondisi itu saya meminta bantuan teman saya yang juga seorang bidan untuk memeriksa apakah sudah ada pembukaan. Ternyata belum ada pembukaan sama sekali. Katanya itu baru kontraksi palsu.

Dalam hati saya berpikir, kalau kontraksi palsu saja sudah seperti ini sakitnya, bagaimana nanti kontraksi yang asli dan proses bersalinnya. Pikiran itu terus berputar dan membuat saya cemas.

Beberapa hari setelah itu saya masih merasakan kontraksi palsu, lalu memasuki usia kehamilan 37 sampai 39 minggu tidak ada kontraksi sama sekali. Tidak ada tanda apa pun. Hanya penantian yang panjang dan sunyi.

USG terakhir saya dilakukan saat usia kehamilan sudah masuk 39 minggu. Dokter menanyakan kepada saya maunya bagaimana, dan mengatakan jika ingin operasi caesar karena usia kehamilan sudah cukup, tinggal dibuatkan surat saja. Saya masih kekeh ingin melahirkan normal. Dokter pun mengiyakan keputusan saya, dan saya diminta menunggu sampai tanggal 8 Desember. Jika belum juga ada kontraksi, akan diambil tindakan.

Sejak saat itu saya menjalani hari-hari dengan cemas. Saya terus berkomunikasi dengan bayi dalam perut saya, berharap ia segera memberi tanda untuk lahir. Setiap hari terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi sangat saya nantikan.

Sampai akhirnya Senin, 4 Desember 2023 datang.

Pukul 04.30 WITA waktu subuh, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kontraksi muncul dan hilang dengan jeda 1 sampai 2 jam. Hari itu seharusnya saya menemani suami ke RSUD Bali Mandara untuk mengambil jadwal operasi impaksi gigi, tetapi saya terpaksa tidak ikut karena takut kontraksi tiba-tiba.

Setiap kontraksi datang saya mengelus perut saya dan berkata ke bayi saya, “kalo mau lahiran hari ini aja yuk, mumpung baba cuti.”

Siang hari sekitar jam 12.00 wita suami saya pulang dari rumah sakit membawakan makan siang, tapi saya baru makan sekitar pukul 14.00 wita, di sela-sela kontraksi yang masih datang dan pergi. 

Setelah itu saya mulai merasa mengantuk, karena sejak hamil besar tidur sudah tidak pernah benar-benar nyaman dan pulas. Saya bilang ke suami mau istirahat dulu sebentar. Baru saja saya memejamkan mata, tiba-tiba terdengar seperti ada yang meletus dari jalan lahir saya, benar-benar seperti suara balon pecah.

Tidak lama setelah itu saya merasa seperti buang air kecil. Saya langsung buru-buru ke kamar mandi, dan saat itu saya melihat sudah ada air yang mengalir di betis saya bercampur sedikit darah. Ketika dicek, benar saja sudah berdarah.

Saya berusaha tetap tenang, lalu langsung menelpon teman saya yang bidan. Dari cerita saya tentang suara seperti meletus dan air bercampur darah yang keluar, dia menyarankan untuk segera ke rumah sakit karena kemungkinan ketuban sudah pecah.

Saya pun bergegas menuju rumah sakit dengan barang bawaan yang tidak terlalu banyak. Tapi karena naik motor dalam keadaan hamil besar dan membawa barang, semuanya terasa cukup ribet dan penuh. Di perjalanan saya berusaha menahan sakit dengan mengatur napas setiap kali kontraksi datang. Segala yang sudah saya pelajari di kelas prenatal yoga saat itu benar-benar terpakai.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung dibawa ke ruang observasi. Setelah diperiksa, ternyata baru bukaan 3. Bidan mengobservasi selama satu jam, jika bukaan tidak bertambah maka saya akan dipulangkan.

Setelah satu jam, sekitar pukul 6 sore, alhamdulillah bukaan saya bertambah menjadi 4. Semakin naik bukaan, semakin intens kontraksi yang muncul. Saya masih terus berusaha mengatur napas dan mengingat semua yang sudah saya pelajari di kelas prenatal yoga, dan saat itu saya masih bisa cukup tenang.

Namun ketika bukaan semakin naik, tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk mengejan sendiri. Sementara bidan mengatakan saya belum boleh mengejan kalau bukaan belum lengkap. Saya benar-benar berusaha menahan agar tidak mengejan, meskipun rasanya sangat sulit.

Sampai akhirnya, bukaan lengkap di pukul 20.30 wita. Suami saya segera memanggil bidan. Bidan sempat agak kaget karena proses bukaan saya cukup cepat untuk anak pertama—awalnya diprediksi baru akan melahirkan tengah malam atau dini hari.

Setelah semua persiapan selesai, saya diminta untuk mengejan. Alhamdulillah, hanya dengan satu kali tarikan napas, anak saya meluncur keluar dan langsung menangis, dengan tali pusar yang terlilit seperti mengenakan selempang miss universe.

Seketika itu juga semua rasa sakit yang begitu hebat hilang saat bayi saya keluar dari perut. Anak saya kemudian langsung dibawa oleh bidan untuk dibersihkan, sementara saya dilanjutkan dengan proses jahit sampai selesai.

                                                        ~**~

Prosesnya selesai. Bayi saya sudah lahir. Saya dan suami menyaksikan tangisan haru, momen ajaib yang sering diceritakan di film-film. Tapi air mata yang keluar bukan air mata kebahagiaan yang meluap. Justru yang saya rasakan adalah sesuatu yang asing: sebuah kekosongan aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Dua jam setelah melahirkan, saya memberanikan diri bicara dengan suami. “Perasaan saya aneh,” kata saya. “Saya melihat anak kita, tapi tidak ada perasaan yang orang-orang ceritakan. Semuanya terasa hampa.” Itu adalah pengakuan yang sulit, tetapi dia mendengarkan.

Kami pulang dari rumah sakit, dan realita langsung menghantam. Suami harus segera kembali bekerja. Di rumah, hanya ada saya dan ibu mertua. Masalahnya, ibu mertua tidak berani memegang atau mengurus bayi baru lahir. Jadi sejak hari pertama, saya benar-benar mengurus bayi ini sendirian—mulai dari memandikan, mengganti popok, hingga begadang. Ibu mertua membantu urusan rumah tangga, dan itu pun hanya berlangsung  seminggu.

Di tengah kelelahan fisik, jahitan belum kering dan masih berdarah-darah, kesulitan terbesar adalah menyusui. Anak saya tidak mau direct breastfeeding (DBF). ASI baru keluar setelah hari ketiga, dan itu pun harus dengan bantuan pumping. Tekanan semakin menjadi-jadi karena pertanyaan dari luar: “ASInya sudah banyak?”, “Cukup tidak susunya?” Rasanya seperti saya sedang dihakimi atas sesuatu yang sangat sulit saya kendalikan.

Tiga bulan pertama adalah masa yang gelap. Kekosongan itu masih terus ada, selalu siap memicu tangisan tanpa sebab. Saya sering menangis tanpa tahu apa yang saya tangisi. Saya tahu ini tidak ideal, tapi saya tidak tahu bagaimana menghentikannya.

Baru setelah anak saya menginjak usia tiga bulan, saya mulai merasakan koneksi yang nyata. Perasaan sayang itu akhirnya datang, perlahan, tidak instan. Seperti hadiah yang terlambat.

Dalam kekacauan emosional dan fisik itu, saya beruntung memiliki suami yang sangat suportif. Dia selalu siaga. Ketika anak bangun malam, dia ikut terbangun. Dia tidak pernah membiarkan saya berjuang sendirian. Meskipun besok harus bekerja pagi, dia tetap membantu mengganti popok atau menggendong. Dukungan nyata seperti itu adalah alasan saya bisa melewati tiga bulan pertama yang gelap.

Menyadari kondisi saya, suami juga sering mendorong saya untuk keluar rumah di akhir pekan atau hari libur. Saat anak baru dua bulan, dia bahkan menyuruh saya menonton film sendiri. Saya pergi menonton film Agak Laen, meninggalkan bayi bersama suami dengan sudah menyiapkan stok ASIP.

Sepulang dari bioskop, saya merasa sedikit lebih ringan. Bahkan ASI saya terasa lebih lancar setelah itu. Tapi masalah tidak berhenti di situ. ASI yang deras justru membuat payudara saya sering bengkak, keras, bahkan kadang disertai demam ringan. Rasanya tubuh saya terus diuji dari berbagai sisi.

Jauh sebelum menikah, kami memang sudah memutuskan untuk menunda kehamilan karena sadar bahwa memiliki anak adalah perjalanan yang berat. Kami sudah berdiskusi, membaca, dan merencanakan. Tapi tidak ada satu pun teori yang benar-benar bisa menggambarkan beratnya realita ini.

Rasa lelah, kosong, cemas, ditambah nyeri fisik menyusui adalah babak yang harus saya lewati. Tapi perlahan, dengan dukungan suami dan hadirnya senyum kecil anak saya, saya mulai melihat jalan keluar dari kegelapan itu. Ini bukan akhir yang manis, tapi awal yang jujur dan diperjuangkan.

Di tengah semua itu, tanggung jawab sebagai ibu tetap berjalan. Saya memaksakan diri untuk stimulasi, membaca buku, mencari ide sesuai usia anak, memastikan milestone tercapai. Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, MPASI, semua saya pelajari lewat Buku KIA , aplikasi parenting, bahkan podcast dengan narasumber para expert dibidang parenting, dokter, psikolog bahkan ustad, seolah saya harus menjadi ibu yang sempurna dalam data dan fakta.

~**~

Namun di balik semua itu, saya mulai sadar bahwa kekosongan yang saya rasakan sejak awal mungkin adalah pintu terbukanya inner child saya. Saya mudah ter-trigger oleh hal-hal kecil dari anak saya, hal yang sebenarnya sepele tapi cukup untuk mengguncang emosi saya. Saya berjanji tidak ingin mengulang pola asuh masa lalu, tapi justru menyadari saya kadang tanpa sadar mulai mengulangnya.

Mengasuh anak sambil membawa luka masa kecil ternyata sesulit itu. Kadang saya merasa ingin menyerah, karena beban untuk menjadi ibu yang lebih baik terasa sangat berat.

Tapi anak saya begitu berharga. Tatapan polosnya selalu mengingatkan saya untuk terus berjuang. Saya tidak menyalahkan orang tua saya, tapi saya harus mencari cara untuk menyembuhkan diri agar tidak menurunkan luka itu ke anak saya.

Sekarang anak saya sudah dua tahun setengah. Perjalanan ini masih panjang. Setiap hari selalu ada tantangan baru.

Dua tahun ini terasa seperti seperempat abad. Dari kehampaan, kesulitan menyusui, kecemasan, sampai akhirnya perlahan menemukan cinta yang tumbuh pelan tapi kuat.

Saya belajar bahwa cinta keibuan tidak selalu datang secara instan, tapi ada harus  dibangun lewat tindakan kecil sehari-hari: begadang, pumping, membaca di tengah lelah, dan kehadiran suami yang tidak pernah pergi.

Kini saya tahu, saya adalah ibu yang sedang berproses. Dan itu tidak membuat saya menjadi ibu yang buruk.

Kalau saya bisa bicara pada diri saya dua tahun lalu, saya akan berkata: tidak apa-apa jika kamu belum merasakan apa-apa sekarang. Pelan-pelan, semuanya akan tumbuh. Kamu akan melewatinya.

Dan untuk suamiku, terima kasih karena selalu menjadi jangkar. Terima kasih karena tidak pernah membiarkan saya berjalan sendiri. Kamu adalah support system terbaik dalam perjalanan ini.

Monday, March 23, 2026

​Membangun Memori dalam Toples Kue: Catatan Lebaran Kali Ini

Lebaran kali ini terasa berbeda. Mungkin bukan hanya hari rayanya, tapi sejak awal Ramadan pun suasananya sudah tak sama. Tahun ini, saya kembali menjalankan ibadah puasa setelah masa menyusui selesai. Di saat yang sama, saya pun telah kembali ke dunia kerja. Kesibukan di lingkungan baru yang mayoritas non-muslim membuat vibes Ramadan kali ini tidak terlalu kental terasa—entah hanya perasaan saya saja atau memang begitu adanya.


​Namun, ada hal lain yang membuat tahun ini jauh lebih bermakna.


​Selama beberapa tahun terakhir, saya kehilangan rasa antusias dalam menyambut Idulfitri. Saya masih terlarut dalam kesedihan atas berpulangnya Ibu dan Kakak pertama. Bayang-bayang kehilangan itu seolah menutup kegembiraan hari raya. Tapi entah mengapa, tahun ini memori masa kecil bersama keluarga justru bangkit kembali dengan begitu hangat.


​Saya ingat betul bagaimana dulu kami sekeluarga berkumpul mengeroyok tumpukan kacang tanah yang sudah direndam air panas. Saya, Bapak, dan kakak-kakak sibuk mengupas kulit arinya, sementara Ibu yang bertugas menggorengnya dengan irisan bawang putih yang harum. Kegiatan itu sangat melelahkan, bisa memakan waktu seharian penuh.


​Ada juga kenangan membuat kue ketapang; Ibu yang menyiapkan adonan, lalu kami bergantian memulung dan mengguntingnya. Mengingat itu semua sekarang membawa rasa hangat di hati. Memori-memori sederhana itulah yang kemudian membuat saya terpikir tentang anak saya, Jema.


​Saya ingin Jema punya kenangan berharga yang bisa ia simpan selaksa saya sudah tidak ada nanti. Saya ingin dia merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan dulu. Akhirnya, tahun ini saya memutuskan untuk membuat kue Lebaran sendiri untuk dinikmati di rumah.


​Meski harus menunggu hari libur kerja tiba, Jema yang baru berusia 27 bulan ternyata sangat bersemangat. Kami tidak membuat banyak macam, hanya palm cheese cookies kesukaannya dan brownies crispy. Jema benar-benar terlibat dalam setiap prosesnya. Dia ikut menuangkan bahan sesuai instruksi, memperhatikan saya mengaduk, lalu dengan telaten membantu membalurkan bulatan adonan ke dalam gula palem dan menyusunnya di atas loyang. Saat membuat brownies crispy pun, jemari kecilnya sibuk menaburkan sprinkle di atas adonan.


​Saya melihat binar bahagia di matanya. Mungkin itulah yang saya rasakan dulu; meski lelah duduk seharian, proses itu menjadi memori yang sangat indah saat semuanya kini sudah tak lagi sama.


​Tahun ini, Idulfitri saya terasa memiliki tujuan yang lebih dalam: menciptakan momen keluarga untuk Jema. Saya tidak tahu apakah dia akan mengingat detail kejadian ini saat dewasa nanti, tapi saya yakin perasaan bahagia itu terekam kuat di alam bawah sadarnya.


​Terima kasih, Jema, sudah hadir dan membuat hari-hari Ibu menjadi jauh lebih berarti dan lebih baik.

Tuesday, December 30, 2025

Memorabilia Dinding

Setiap kali aku berdiri di ambang pintu yang akan segera kukunci untuk terakhir kalinya, ada debar yang tidak pernah berubah. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di dada, tak kasat mata, tak terbahasakan, namun selalu ada. Seolah-olah ada akar di bawah kakiku yang dipaksa lepas sebelum ia sempat menghunjam dalam ke bumi.
​Mungkin ini adalah kutukan atau sekadar kebiasaan. Sejak kecil, hidupku adalah tentang berpindah; tentang koper-koper yang tak pernah benar-benar kosong dan perpisahan yang menjadi kawan akrab. Namun anehnya, meski aku tahu aku tak bisa berlama-lama di satu tempat, rasa sesak ini tetap datang dengan intensitas yang sama. Persis, tak ada yang berubah.
​Namun, setiap perpisahan selalu terasa berat.
​Persinggahan ini bukan sekadar atap. Ia adalah saksi bisu dari sebuah keajaiban. Di sinilah, sejak hari ketiga kelahirannya, buah hatiku mulai menghirup dunia. Dinding-dinding ini telah merekam tangis pertamanya yang memecah sunyi, langkah kaki kecilnya yang belum stabil, hingga kini ia telah melewati seribu hari pertamanya yang penuh warna.
​Kepadamu, persinggahan yang sebentar lagi akan menjadi asing:
​Terima kasih telah memeluk tumbuh kembang anakku.
​Terima kasih telah menjadi saksi bisu bagaimana aku tertatih, jatuh, dan bangkit kembali dalam belajar menjadi seorang ibu.
​Jika saja kau adalah makhluk yang bernapas dan memiliki detak jantung, ingin rasanya aku memelukmu erat sekali. Aku ingin kau tahu betapa lelahnya aku di sudut dapurmu, betapa bahagianya aku di atas lantai ruang tamumu, dan betapa hangatnya cinta keluarga kecilku yang pernah mengisi rongga-ronggamu.
​Kau telah melihatku di titik terendah dan saat-saat paling bercahaya. Kini, aku harus melangkah, membawa kenangan yang kau jaga selama ini.
Aku titipkan sebagian jiwaku di sela-sela lantai ini, biarkan ia menetap, sementara raga ini harus menemui alamat yang baru.

Saturday, December 13, 2025

Seporsi Mie Kari Ayam: Pergulatan Rasa dan Waktu

 ​Sejak dulu, ia hanyalah rasa yang asing,

Tertera jelas di daftar, namun tak pernah kuundang.

Seporsi mie kari ayam, sebuah paradoks lidah,

Bagaimana ribuan hati menjadikannya debar yang

indah?

Aku mencoba, sekali, dua kali,

Namun yang kudapat hanya aroma yang tak sejiwa,

Gumpalan rempah yang terasa keliru,

Kenapa nikmat itu begitu jauh dariku?

Ia kuanggap sebagai babak yang terlewat,

Menu yang tak pernah kuizinkan singgah di serat.

​Tahun-tahun berlayar, peta hidup berubah-ubah,

Hingga suatu hari, sebuah bisikan tak terduga.

Ingin mencoba lagi? tanyanya pelan.

Mie kari ayam, mengapa kini kau hadir 

di pelupuk ingatan?

Panci mengepul, aroma itu kembali menyeruak,

Namun kali ini, entah mengapa, ia tidak lagi 

mendesak.

Kuaduk perlahan, benang-benang kuning dan kuah keemasan,

Satu suapan. Terkejut.

Ini bukan rasa yang dulu kurasa.

Dimana pedih yang kuingat? Dimana ketidaksukaan itu?

Kini ia adalah kehangatan yang merangkul,

Kekayaan bumbu yang mekar, gurih yang jujur.

Kenapa? Apa yang berbeda?

​Ah, Seporsi mie kari ayam, kau cermin yang

tersembunyi.

Bukankah hidup kita serupa benang-benang mie

yang mengendur?

Ada hal-hal yang dulu kita anggap getir dan harus dihindari,

Situasi yang kita sangka takkan pernah mampu kita nikmati.

Mungkin dulu, bumbu kehidupan itu belum meresap sempurna,

Rasa rempahnya masih kaku, butuh waktu untuk saling menyapa.

​Kita bertemu dengan kari ayam kehidupan,

Yang dulu terasa asing, rumit, dan terlalu berani.

Kini, setelah melalui banyak hari dan perubahan hati,

Kuah yang sama itu tiba-tiba terasa cocok di lidah.

Kita tidak lagi melawan, tapi mengikuti ritmenya yang kental.

​Rupanya, yang berubah bukanlah rempahnya,

Tapi kedewasaan indra perasa di dalam jiwa.

Kita mulai menemukan keindahan dalam

kompleksitas rasa,

Belajar menerima bahwa hal yang dulu dibenci,

Kini bisa menjadi kenyamanan yang dicari.

​Seporsi mie kari ayam.

Penundaan yang berbuah penerimaan.

Menyisakan janji bahwa setiap penolakan hari ini,

Bisa jadi adalah kecintaan yang tertunda di esok hari.

Monday, December 8, 2025

Lampu Kota dan Kesunyian Sejati

​Risa berumur sembilan belas tahun, dan baginya, usia itu terasa seperti janji yang belum terbayar. Ia tinggal di sebuah kamar kos sempit di salah satu gang padat di belakang Plaza Gajah Mada. Kamar itu dingin, lembap, dan sering berbau masakan penghuni lain. Tapi setidaknya, kamar itu miliknya sendiri.

​Pukul sepuluh malam. Rasa lelah hari ini bukanlah lelah fisik karena mengerjakan tugas kuliah atau freelance desainnya. Ini adalah lelah yang mengendap di rongga dada, lelah karena harus terus menerus menahan diri. Lelah karena seharian berinteraksi, namun tak ada satu pun kata jujur yang terucap dari bibirnya.

​Ketika stres mulai mencekik, Risa punya ritualnya. Ia tak akan membuka media sosial atau menelepon siapa pun. Ia akan mengambil jaket tipisnya, memasukkan ponselnya ke saku, dan mulai berjalan kaki.

​Ia berjalan menembus keramaian kecil para pedagang kaki lima yang baru buka, melewati suara riuh motor dan bis yang tak henti. Kakinya membawa dia ke tempat yang selalu ia tuju: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan plaza besar itu.

​Malam ini, Risa berdiri di tengah jembatan besi itu. Kakinya terasa lega setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Di bawahnya, Jalan Gajah Mada terbentang megah, dipenuhi sungai cahaya yang mengalir. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis merah dan putih yang menari cepat.
​Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke langit Jakarta yang pekat. City light yang megah itu terasa ironis. Ribuan jendela bercahaya, menandakan ribuan kehidupan, ribuan cerita, ribuan keluarga yang berkumpul. Namun, di JPO ini, di tengah kemegahan itu, Risa merasa kesepian yang tak terperi.
​Ia rindu. Oh, ia sungguh rindu.
​Tapi ia tidak tahu apa yang ia rindukan. Bukan rumah, karena rumah orang tuanya di kota kecil dulu juga terasa sunyi. Bukan teman, karena pertemanannya di kampus terasa dangkal dan sebatas tugas.

​Risa memejamkan mata. Apakah yang ia rindukan itu adalah suara yang tulus? Genggaman tangan yang tidak menghakimi? Kehangatan yang benar-benar bisa ia peluk tanpa filter?
​Ia membuka matanya dan menatap mobil-mobil di bawah. Kecepatan mereka, desibel mesin mereka, semuanya terasa lebih nyata daripada perasaannya sendiri. Di sinilah satu-satunya tempat ia merasa didengarkan. Bukan oleh orang, tapi oleh keramaian yang anonim.

​Jika ia berteriak di sini, tak ada yang akan menoleh. Orang-orang akan mengira ia hanya gadis aneh yang menikmati angin malam. Itu sempurna. Karena kesunyian yang disengaja lebih baik daripada kesunyian di tengah keramaian.
​Risa mengeluarkan ponselnya, bukan untuk menelepon, tapi untuk menatap layarnya yang gelap.
​Kepada siapa aku harus bercerita?
​Bahwa aku lelah berpura-pura tahu masa depan.
Bahwa aku takut dengan kota sebesar ini.
Bahwa hati kecilku, yang baru 19 tahun, sudah terasa usang.

​Tidak ada nama yang muncul di benaknya. Ia tidak memiliki tempat pulang untuk jiwanya.
​Maka, ia memilih untuk berdiri diam, menjadi bagian dari lanskap yang bergerak tanpa peduli. Lampu kota yang megah adalah rahasia terbesar dan satu-satunya pendengar setianya. Setiap malam, ia membisikkan keputusasaannya pada gemuruh mesin dan kilau cahaya yang berputar cepat, tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjawab, tetapi juga tidak akan pernah mengkhianatinya.

​Ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Risa tahu waktunya untuk kembali ke kamarnya yang dingin. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bercampur asap dan janji palsu.
​Ia berbalik, meninggalkan city light di belakangnya. Di saat ia melangkah menuruni tangga JPO, ia hanya berharap, suatu hari nanti, "rindu" yang samar ini akan menemukan sebuah alamat, sebuah wajah, atau sebuah suara yang akan menyambutnya pulang.

​Sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan kaki, mencari JPO lain, dan menjadikan keramaian malam sebagai sahabat kesepiannya.

Wednesday, December 30, 2020

Saudade III


" Pergi dan kehilangan adalah dua hal yang tak terelakan"

21 oktober 2019
Pukul 04.20 selepas adzan subuh, kedua kakak saya membangunkan saya yang tertidur dikamar, kakak bilang bahwa ibu sudah tidak ada,  saya langsung bergegas keluar dan membangun kana bapak  dan adik saya yang tidur di ruang tamu,  juga membangunkan suami saya yang tertidur dikamar adik saya.

Tubuh ibu sangat dingin,  saya mencoba memeriksa denyut nandi ditangannya,  dan detak jantungnya,  saya masih bisa merasakan detak jantung terakhir ibu,  sebelum ibu meninggalkan raganya.

Saat menyaksikan ibu sudah tidak bernyawa,  saya mencium kening ibu, entah kenapa ada kelegaan dalam hati saya, dan berkata "sekarang ibu udah ga sakit lagi ya." kalimat itu masih berlanjut dalam hati. Dihati saya belum ada kesedihaan yang mendalam.

Setelah itu, kami semua sibuk mengabari sanak saudara,  sementara saya dan adik saya membeli bendera kuning dan spidol.  Selama perjalanan pulang, entah mengapa semua kenangan tentang ibu telintas dikepala saya. Sesampainya dirumah,  saya memberikan bendera dan spidol kepada adik saya.  Saya berjalan dengan tatapan kosong. Memasuki kamar,  terdiam,  dan pecahlah tangis saya. Sambil menangis saya berbicara tetang apa saja kebiasaan ibu.  Ibu selalu mengetuk pintu kamar saya dan menyuruh sarapan sebelum berangkat kerja,  ibu yang selalu mengirimi pesan menanyakan kabar saya dan bertanya kapan pulang, ibu yang selalu tidur di sofa ruang tamu kalau saya dan yang lainnya belum pulang.  Kakak saya memeluk saya dengan erat,  juga suami saya.

Hati saya terasa begitu sakit. Saya memilih untuk diam dikamar. Saya masih belum mau melihat jasad ibu (lagi). Juga menghindari orang-orang yang selalu tidak tahu bagaimana menghargai orang yang sedang berduka.  Saya mendengarkan dari kamar, banyak orang yang datang,  mengucapkan turut berduka tapi seketika itu juga bertanya kronologi tetang ibu saya,  kedua kakak saya yang sudah lelah selama beberapa hari, saat itu sedang berduka masih harus meladeni orang-orang seperti itu.  Menjelaskan lagi dan lagi,  tangisnya pecah lagi dan lagi.  Kesedihan saya sedikit berubah menjadi kekesalan, ingin rasanya keluar kamar dan memaki mereka semua.  Tapi saya memilih untuk tetap diam dikamar,  saya sudah berhenti menangis, saya berfikir,  sampai ketika ibu saya di kafani pasti akan runtuh segala ketegaran kakak-kakak saya,  yang dikuras habis oleh orang-orang itu.

ketika jenazah ibu hendak dimandikan,  saya dipaksa keluar, "dipaksa" untuk mencium & mengucapkan maaf kepada ibu untuk yang terakhir kali,  saya menolak serta menarik tangan saya dengan sedikit keras dari gengaman tante saya dan mengatakan "itu cuma jasadnya,  saya udah minta maaf kemarin ketika ibu masih bernyawa dan mendengar saya." mendengar ucapan saya,  beberapa orang yang mendengar, raut muka berubah,  tapi saya tidak peduli apapun yang dipikirkan orang-orang tentang saya.

Setelah selesai dimandikan, dan didandandi,  sebelum wajah ibu di tutup dengan kafan,  (lagi-lagi) kami anak-anaknya diminta untuk mencium untuk yang terakhir kali,  karena kedua kakak saya sedang 'berhalangan' maka tidak di perkenankan untuk menciumnya,  tiba giliran saya, saya pun juga sedang 'berhalangan' pun kalau tidak saya tetap tidak mau melakukannya,  saya tidak sanggup melakukannya.  Suami saya menggantikan saya, dari ikut memandikan & mencium ibu untuk yang terakhir.

Ibu sudah tenang disana, tinggallah bapak dan adik-adik saya, yang pasti harus terus menerus mengingat kenangan akan ibu. Karena merekalah orang-orang yang setiap harinya bersama dan merawat ibu. 

Itu juga jadi salah satu alasan saya tidak mau berada dirumah, karena saya tidak akan sanggup mengingat segala kenangan ibu dengan segala kebiasaannya di tiap sudut rumah. 

Saya tidak sekuat kakak, adik dan bapak. Tapi satu hal perlu mereka ketahui, tidak sedikitpun berkurang rasa cinta saya terhadap ibu, juga bapak. Serta keluarga kami. 
Selamat jalan ibu. 

Monday, June 22, 2020

Pandemi Covid-19

Sudah tiga bulan sejak di rumahkan dari tempat kerja, saya hanya berdiam di kostan.  Membaca beberapa novel,  menonton beberapa film, mewarnai beberapa gambar dan memakan tidak sedikit makanan. 
Banyak pengalaman pertama yang saya & suami saya alami. 

Selain pengalaman menjadi gendut kembali,
setelah beberapa tahun tidak semenggembung ini. 
Mundur sedikit, ini tahun ke tiga saya menyepi di bali, dari tahun pertama 2018, sampai tahun ini saya melaluinya dengan pengalaman yang berbeda. Tahun pertama,  saya menyepi bersama sahabat saya yang beragama hindu di denpasar,  tahun kedua saya menyepi di karangasem di kampung muslim, kediaman orang tua pacar saya,  yang kini jadi mertua saya, di tahun ketiga,  tepatnya tahun ini,  saya menyepi di denpasar,  bedanya kali ini saya bersama suami saya, di sertai kepanikan dengan begitu tiba-tibanya suami saya terserang vertigo di siang hari, bersyukur bisa membaik dengan obat-obatan yang kami punya. Segala kecemasan di siang hari, terbayar dengan keindahan langit di malam hari, kami menikmati taburan bintang diangkasa dari depan pintu kamar kami. 

Itu hanya salah satu pengalaman baru yang saya dapatkan, mungkin juga suami saya. 
Pengalaman baru lainnya,  puasa kali ini tidak ada shalat tarawih berjama'ah di masjid ataupun musola. Dan puasa kali ini pun jadi puasa pertama kami,  ya saya dan suami. Setelah beberapa tahun,  ketika ngekos saya hampir tidak lagi melakukan sahur,  di tahun ini saya bangun untuk memasak dan juga makam sahur bersama suami saya,  tapi itu hanya berjalan hanya di dua minggu pertama saja,  karena perut saya belum bisa menyesuaikan untuk makan di waktu dini hari. 

Juga, menjadi idulfitri pertama kami (saya & suami),  kali pertama kami hanya berdua di hari raya,  khusunya suaminya saya.  Segala rencana untuk mudik ke depok pun batal,  karena COVID-19. Suami saya tidak berani pulang ke karangasem,  rumah orang tuanya,  karena takut menjadi carrier untuk orangtuanya,  yang sudah cukup berusia senja dan juga punya penyakit bawaan.  
Juga menjadi lebaran pertama tanya telpon dari ibu,  yang kini saya yakin sudah mendapat tempat terbaik di sisiNYA. 

Ada juga permasalahan baru yang saya dan suami saya alami,  yang alhamdulillah sejauh ini bisa kami lalui. 

Tahun ini adalah tahun serba pertama tentang banyak hal yang saya alami. Yang tidak bisa saya tuliskan dengan detail. 
Saya hanya berharap pandemi ini segera berakhir. 

Wednesday, January 22, 2020

Episodik

Tidak selalu harus rumput hijau, angin tepi sawah,  kopi senja atau apapun yang sedang hits-hitsnya. 

Melangkah dibawah langit malam, polusi asap kendaraan yang terhirup memenuhi rongga paru-paru tersamarkan gelap malam. 

Lampu kemacetan lalu lintas yang bisa di nikmati dari jembatan penyebrangan orang. Gedung-gedung tinggi sepanjang jalan sudirman. Berbagai macam aroma makanan sepanjang pinggir jalan halte harmoni sampai jalan gajah mada, jadi teman paling menyenangkan. 

Bunyi klakson saling bersautan. Bau debu yang terbawa angin malam.  Kerumunan orang-orang saling berdesakan dengan wajah lelah,  berharap cepat sampai dirumah. 

Menyepi dalam keramaian hal menenangkan sekaligus  menyenangkan untuk sesekali dirindukan. 

Friday, January 3, 2020

Saudade II

"Jika memang harus pergi,  maka mudahkanlah."

Bandara ngurahrai, 
Setibanya di gate 5, saya kembali mengecek handphone, kabar terakhir yang saya terima dari kakak saya,  ibu sudah dibawa kerumah sakit,  tensinya 220, ada pembuluh darah yang pecah, dan saat itu sedang menjalani pemeriksaan lainnya. Setelah itu, saya mendapat kabar terbaru tentang kondisi ibu, dari sepupu saya,

"Del pihak rumah sakit tadi manggilin keluarga inti, ngabarin, rumah sakit sudah ga bisa ngapa-ngapain. Intinya RS minta pihak keluarga untuk pengajuan pulang buat ibu.Yang gue tangkep, pihak RS juga sudah mulai angkat tangan, karena disuruh pulang dan disaranin banyakin doa di rumah. Sambil jalan, sambil doain ibu ya.Jangan banyak pikiran, pulang ke rumah aja dulu. Ibu nungguin dirumah ya."


Tangis saya kembali pecah, hati makin gelisah,  ingin segera sampai dirumah.  Sialnya pesawat saya delay -+30 menit.
~
Akhirnya saya tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 00.20 wib,  saya di jemput oleh om dan kakak sepupu saya. Selama berada didalam mobil saya hanya diam,  om saya sesekali melontarkan pertanyaan,  pertanyaan yang seharusnya biasa saja, tapi saat itu entah kenapa ketika mendengar nada biacra om saya, saya begitu sensitif , membuat saya mengeryitkan dahi.  Om saya hanya bertanya kenapa suami saya tidak menemani? Dan saya hanya menjawab singkat,  masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Pertanyaan sepele semacam itu membuat saya sedikit kesal, saya tidak mau ada yang berfikir buruk tentang suami saya,  tanpa mereka tahu apa yang sudah suami saya lakukan untuk saya. Akhirnya saya memilih,  menyandarkan kepala dan memejamkan mata di jok mobil, karena cukup lelah menangis seharian.

Saya tiba di Depok sekitar pukul 01.30 wib dini hari.  Dan singgah di rumah mbah uti terlebih daluhu, disana ada mbah uti, om,  pakde,  tante dan sepupu saya. Mereka menyuruh saya makan sebelum menuju kerumah,  saya berbohong bilang bahwa saya sudah makan karena saya enggan berbicara banyak dan ingin segera melihat ibu, tidak lama kemudian akhirnya saya diantarkan pulang kerumah.
Jarak rumah saya ke rumah embah hanya sekitar 10 menit kalau berjalan kaki.

Bapak menyambut saya pulang, "ibu baru aja tidur,  tadi dirumah sakit makin kejang pas dipasangin alat,  gak tega gua liatnya. " ujar bapak kepada saya. Saya hanya terdiam, mendekati ibu dan menciumnya, "ibu lu nanyain lu mulu, kangen katanya, tidur dah dulu disamping ibu lu sambil di peluk,  biar ibu ngerasain anaknya udah pulang." ujar bapak lagi, melihat kondisi ibu yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya serta mendengar kata-kata bapak membuat saya kembali memecahkan tangis saya . Pagi itu saya tidur disamping kiri ibu sambil menggenggam tangannya,  sementara kakak perempuan saya yang kedua tidur di sebelah kanan ibu, wajahnya terlihat begitu lelah.

19 Oktober 2019
Pukul 06.00 wib,  ibu kejang.  Kami semua menghampiri ibu dan bapak terus melantunakan kalimat  "laillahailallah"  di telinga ibu.  Pagi itu kami semua menangis,  tidak tega melihat ibu menahan sakit yang begitu hebat. Pagi itu kami sudah ikhlas,  jika harus pergi,  permudahlah.

Beberapa menit kemudian, kejang ibu berhenti.  Kondisinya kembali tenang dengan nafas yang cukup berat,  dan tetap tidak sadarkan diri.  Begitu seharian. 
~
Suami saya mengabari saya bahwa dia akan menyusul saya jika dia sudah menyelesaikan pekerjaannya,  dan mendapat penerbangan malam pukul 22.30 wita.  Saya tahu pikirannya terbagi antara pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan dan juga saya yang dia khawatirkan. Pun saya,  saya khawatir,  karena ini kali pertama, dia melakukan perjalanan keluar pulau sendirian. Saya tidak bisa menjemput, dan hanya memberikan instruksi untuk naik hiba depok, setibanya dibandara.  Yang saya khawatirkan lagi,  bus hiba depok hanya sampai pukul 00.00 wib. Saya hanya bisa berdoa,  semoga pesawatnya tidak delay.  Dan benar saja,  dia mendapati bus teraakhir malam itu,  tiba di terminal depok pukul 01.10 wib,  yang kemudian dijemput abang ipar saya.  Dan tiba dirumah pukul 01.30 wib. Saya di bangunkan oleh bapak yang tertidur dikaki ibu. Ada perasaan tenang ketika melihat dia tiba.  Entah karena akhirnya dia sampai rumah, atau akhirnya saya tidak sendiri menghadapi situasi ini. Terimakasih sudah hadir. 

20 Oktober 2019
Pukul 06.00 wib,  ada keluarga bapak dari sukabumi yang menjenguk ibu,  dikenal sebagai orang yang terbiasa menyembuhkan orang sakit dikampungnya.  Beliau mencoba melakukan ritual untuk ibu saya,  kami anak-anaknya hanya bisa terdiam dan pasrah.  Setelah selesai,  kondisi ibu terlihat ada perubahan yang cukuo signifikan, ibu merespon ketika kami memanggilnya, dan sudah bisa minum sedikit demi sedikit dari sedotan yang kami teteskan kemulutnya,  biasanya ketika kami tetesakan air,  ibu tidak bisa menelannya,  pagi itu seperti ada harapan bahwa kondisi ibu membaik.  Kami memberi ibu makan bubur yang diencerkan dan air.  Karena sejak ibu tidak sadarkan diri, tidak ada makanan atau minuman yang masuk sedikit pun. 

Sempat ada perdebatan. Saya, kakak-kakak dan bude berencana akan membawa ibu ke RSCM, agar mendapat gizi yang lebih baik karena kondisinya ada perubahan dari beberapa hari sebelumnya, dengan alasan lain bahwa kami anak perempuannya hanya bisa sampai satu atau dua hari lagi saja dirumah,  karena kakak perempuan saya yang pertama anaknya harus sekolah, dia pun harus bekerja, sementara kakak saya harus bertugas ke papua dalam minggu-minggu itu, sedangkan saya sendiri harus kembali ke bali, juga karena pekerjaan dan saya memang menetap di bali. Jika hanya dirumah,  ibu tidak ada yang merawat. Tapi adik laki-laki saya dan bapak kurang setuju,  karena tidak mau melihat ibu tersiksa dengan alat-alat rumah sakit lagi.  Dan akhirya ibu tetap dirumah. 

Malamnya,  selepas magrib,  kami semua lengkap berkumpul,  bapak, ibu yang tetap terbaring,  kedua kakak saya,  kedua adik saya,  kedua menantu laki-lakinya dan juga saya.  Kami melakukan bancakan (tradisi makan bersama dalam satu wadah,  daun pisang atau kertas minyak),  sambil meledek satu sama lain,  sambil mengajak ibu berbicara.  Karna kami percaya bahwa ibu mendengar kami.  Suasana yang mungkin kami semua rindukan, khususnya saya,  akhirnya kami bisa berkumpul lengkap, saling melempar canda dan tertawa. 

Setelah selesai makan, saya mengecek kondisi ibu, badan ibu sangat panas,  saya pun bergegas memanggil kakak-kakak saya. Abang ipar saya dengan cepat memberikan termometer,  setelah di cek,  suhu ibu 41°C.  Saya dan kakak saya mengompres ibu dengan air dingin.  Setelah beberapa jam,  panasnya mereda.  Dan ibu tertidur lagi.

Friday, November 8, 2019

Saudade

Kematian tidak pernah selalu buruk. 
Buat beberapa org yang ditinggalkan, adalah duka. 
Buat yang pergi,  bisa jadi sebuah pertemuan yang dinanti-nanti.

Ibu saya menderita stroke sejak 3 tahun terakhir, kondisinya sudah cukup memprihatinkan, badannya kurus, berbicara pun sudah tidak jelas, bahkan untuk berjalan, ibu sudah cukup kesulitan, tapi beliau selalu berusaha untuk tetap bisa mengurus rumah. 

Sejak dulu ibu adalah orang sangat aktif di lingkungan tempat tinggal kami,  dari mulai mengurus pos bindu, ikut pengajian,  dan mengajar ngaji anak-anak dirumah. Ibu senang mengurus banyak hal.

Momen terakhir yang tidak akan pernah saya lupakan adalah,  ibu masih bisa menghadiri pernikahan saya,  dengan segala keterbatasannya.
Karena beberapa kali ibu selalu menanyakan kapan saya menikah?, dan ketika saya meminta izin via telpon untuk menikah,  suara ibu terdengar sangat gembira.
~

Rabu,  16 Oktober 2019
Saya mendapat kabar kalau ibu jatuh di dapur, bapak mengirimkan foto ibu,  saat itu ibu terlihat masih lumayan segar,  tapi dagunya bengkak dan sangat memar. 

Kamis,  17 Oktober 2019
Pukul 12.30 wita saya mengecek hp,  ada beberapa panggilan tak terjawab dari bapak dan kakak saya,  saya mencoba menelpon kembali bapak tapi tidak ada jawaban,  beberapa menit kemudian, ada panggilan video call  dari kakak saya,  katanya ibu ingin berbicara dengan saya.  Karena bicara ibu sudah tidak terlalu lancar di tambah dagunya yang bengkak. Membuat ibu makin susah bicara, kakak saya pun mengulangi kalimat ibu, yang terdengar jelas saat itu hanya "sakit de." saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak memecahkan tangisan saya,  dan saya memilih untuk mengakhiri video call tersebut,  dengan hati yang sesak

Jum'at,  18 Oktober 2019
Tepat pukul 13.00 wita,  bapak mengabarkan bahwa ibu kejang dan tidak sadarkan diri. Saat itu suami saya sedang pergi sholat jumat,  kemudian mengabarkan suami saya tentang kondisi ibu,  suami saya langsung bergegas pulang,  dan mendapati saya sedang menangis kemudian memeluk saya erat.  Sambil menangis  terisak, saya berkata kepada suami saya "mau pulang." hanya itu yang keluar dari mulut saya, diiringi isak tangis yang semakin pecah,  ketika bapak mengirimi pesan bahwa sepertinya ibu sudah tidak kuat lagi. Suami saya hanya bertanya "mau pulang malam ini? ." saya hanya bisa mengangguk, kemudian suami saya pun terdiam kembali. Tangis saya tidak berhenti karena saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan selain menunggu kabar dari adik,  kakak dan keluarga saya di depok.

Sekitar pukul 16.30, suami saya pamit untuk berangkat kerja. Sementara, suami saya tidak memberikan jawaban apakah saya boleh pulang atau tidak.

Saya berfikir apakah permintaan pulang saya terlalu berat untuk dia.  Saya pun tidak berani menanyakan kembali, bahkan saya sudah mengatakan kepada kakak saya,  bahwa saya tidak bisa pulang.  Mereka pun berusaha mengerti dan menenangkan saya,  tidak apa jika memang tidak bisa pulang. 

Beberapa keluarga pun menanyakan perihal kepulangan saya,  saya hanya menjawab akan saya usahakan pulang.
Saat itu saya berfikir,  jika suami saya memang tidak mengijinkan saya pulang,  saya sudah ikhlas, karena saya takut permintaan pulang saya justru menjadi beban buat dia. Kemudian saya menghubungi kakak saya untuk menyampaikan permintaan maaf saya kepada ibu.
Saya berusaha melakukan aktifitas yang sempat tertunda. Dengan kesedihan yang mendalam.

Pukul 18.40 wita,  suami saya menelpon dan menawarkan saya untuk flight di jam 22.30 wita, saya kaget sekaligus gembira karena akhirnya saya bisa pulang. Saya pun langsung mengabari kakak dan sepupu saya.  

Suami saya pun bergegas pulang,  untuk mengantarkan saya ke bandara.  Saya dan suami tiba dibandara pukul 21.00 wita, karena pembelian tiket pesawat dibawah 12 jam tidak bisa dilakukan secara online , kami pun langsung membeli tiket di counter. 

Raut muka suami saya terlihat begitu cemas,  digenggamnya tangan saya erat. Lalu saya mencium pipi suami saya,  seraya dalam hati mengucapkan terimakasih....

Wednesday, September 4, 2019

Filosofi Air payau

"Aku tunggu di tepi pantai tempat biasa kamu melihat bintang, jam 7 malam ini. Tolong jangan menghindar lagi, ra!."

Hira membaca pesan tersebut dengan mata masih mengantuk.  Kemudian kembali meletakan telepon gengamnya.  
Badannya masih terasa sakit semua,  karena seminggu terakhir,  dia habiskan waktunya untuk berkeliling naik kereta. 
Hira yang awalnya ingin kembali tidur,  tapi jadi memikirin pesan yang baru saja dibacanya. Kemudian kembali lagi dia mengambil telpon genggamnya, dilihatnya sekarang pukul 04.08 sore, diletakan lagi telepon genggam miliknya.

***
Dilihatnya seorang pria mengenakan kemeja biru laut duduk diatas pasir tepi pantai,  angin yang cukup kencang,  membuatnya harus merapikan rambut gondrongnya yang tersapu berkali-kali. 

Hira kemudian duduk persis disampingnya,  dengan tatapan lurus kedepan. 

Janu menatap hira, yang sesekali membenarkan poninya yang tersapu angin. Setelah tarikan nafas yang cukup panjang.  
"Kamu pernah dengar tentang air asin dan air tawar?." tanya janu memecah hening.

"Mereka bisa hidup berdampingan tanpa bisa melebur jadi satu." jawab hira tegas. 

"Ya,  Tuhan pun pernah berfirman dalam kitabnya. "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing," Ar rahman 19-20." tambah janu. 

"Hal yang jelas berbeda memang tidak akan bisa bersatu,  tapi hanya bisa berdampingan." ujar hira yang dengan konsisten masih menatap ombak,  kemudian diam sejenak,  menelan ludah untuk kembali melanjutkan kalimatnya. 

"Sama halnya  manusia,  tidak ada yang sama, hanya bisa hidup berdampingan tanpa bisa menyatukan sifat yang sudah terbentuk sejak lahir dan lingkungan tempat bertumbuh." tambah hira. 

"Tapi saya teringat tentang air payau,  campuran air tawar dan air laut." kali ini janu mendapatkan perhatian hira.  
"Kamu tahu bagaimana bisa air payau itu terbentuk?,  Jika kadar garam yang dikandung dalam satu liter air adalah antara 0,5 sampai 30 gram, maka air ini disebut air payau. Namun jika lebih, disebut air asin." jelas janu. 

 Hira masih terdiam,  dan menatap janu dengan sedikit mengernyitkan dahi. 

"Ditengah ketakutan dan kekhawatiran mu tentang perjalanan baru kita.  Saya sedikit belajar dari air payau, anggaplah kita dua orang yang mempunyai kadar air asin dan air tawar yang bertemu.  Jika kita mau bercampur jadi satu. Kita harus sama2 menurukan kadar garam, orang-orang menyebutnya ego. Agar bisa hidup dalam satu gelombang dan tidak hanya saling berdampingan.Sedikit orang pasti yang menggunakan filosofi air payau. 
Karena bagi saya pertemuan kita tidak hanya untuk sekedar berdampingan tapi bersekat, seperti fenomena selat gibraltar.  Saya ingin kita hidup seperti air payau,  yang menyeimbangankan kehidupan."

Hira masih terdiam sesaat.

"Menjadi hutan mangrove." ujar hira sambil tersenyum.

Janu lalu memeluknya. 


Sunday, July 14, 2019

Menelisik Rindu

"Kangen. "
Tiba-tiba sebuah chat masuk,  membuat saya mengeryitkan dahi ketika membacanya.

"Salah kirim?. " balas ku.

"Engga, lu ga kangen?. " balasannya kali ini tidak hanya membuat saya negeryitkan dahi.  Tapi membuat saya sejenak menghela nafas dan berfikir keras.  Butuh hampir 10 menit untuk bisa menjawabnya.

"Ada yang berubah dengan rutinitas kita?." balas ku tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu.


"Kita lebih banyak di jalan akhir-akhir ini." jawabnya singkat.

"Ngerasa mulai hambar dan insecure,  iya.  Jadi ga ngerasa kangen." jawabku

" apa karna sibuk ngurus pernikahan ya?  Kangen ngobrol lama,  sekarang tiap sampe kost udah cape & ngantuk." jelasnya.

Lagi-lagi,  pesannya membuat saya terdiam berfikir.

"Iya,  semoga." jawabku singkat agar obrolan ini segera berakhir.

Berakhirnya obrolan di watsap sore itu,  tidak  membuat saya jadi berhenti berfikir. Saya mulai mengintrospeksi diri.  Bagaimana bisa saya mulai mengabaikan perasan sepenting itu. Perasaan yang harusnya membuat kami semakin erat.

Berkat obrolan itu saya jadi paham,
Bahwa rindu tidak selalu soal temu, tapi akan selalu bicara tentang "jarak",  apa dan mengapa. 

Friday, June 21, 2019

Tidak Utuh

Tidak semua jatuh cinta bisa membuat orang jadi bersama.
Karena hanya satu kali, hubungan yang didasari jatuh cinta .
Sisanya,
Dua manusia  bersama karena terluka.

Yang merasa perlu melanjutkan hidup , saling mengisi dan berbahagia.
Walau hatinya entah tertinggal dimana.

Dua manusia yang memutuskan untuk saling belajar jatuh cinta.
Dimana jatuh cinta hanyalah buah dari kebiasaan atas pertemuan yang direncanakan.
Dari obrolan yang sengaja diciptakan demi membangun keintiman.

Yang pada akhirnya,  hanya jatuh cinta setengah-setangah.
karena sisanya masih berusaha keluar dari bayang-bayang masa lalu dengan susah payah.
Dua manusia yang enggan berpisah.
Tapi (tetap) jatuh cinta setengah-setengah. 

Tuesday, June 18, 2019

Sedikit Rindu Banyak Cemasnya

Setengah harian saya memandangi sebuah wadah berwarna merah berbentuk hati,  yang tergeletak persis di meja samping televisi. Waktu seakan berhenti,  saya pun tidak bisa berfikir sama sekali. 

Saya meraih benda yang sejak tadi saya pandangi,  saya membukanya perlahan.  Sekarang,  saya bisa melihat isi di dalamnya. Saya menghela nafas panjang, kemudian menutupnya dan meletakannya kembali ketempat semula.

Saya membaringkan tubuh di tempat tidur, dengan tatapan yang masih tertuju pada benda di samping televisi itu. Saya tidak bisa menggambarkan apa yang saya rasakan. Karena diwaktu yang bersamaan, rasa takut, khawatir dan masalah besar akibat kekurang bijaksanaan saya mengambil keputusan, seolah janjian, menghampiri saya  secara bersamaan . Saya tidak benar-benar tahu, apa yang saya rasakan saat ini. 

Cukup lama saya terdiam,  dan mulai berfikir,  saya sudah melangkah dan mengambil keputusan sejauh ini. Hidup yang selalu saya inginkan,  berdiri atas keputusan saya sendiri,  tanpa perlu dengar kanan kiri. 

Tidak sedikit keputusan yang tidak bijak pernah saya ambil. Apa saya menyesal?,  rasanya tidak ada gunanya,  saya hanya perlu menghadapi konsekuensi dari segala keputusan yang pernah saya ambil.  Dan sekarang,  (lagi-lagi) saya telah mengambil keputusan besar dalam hidup saya.  Yang apapun resikonya,  semoga saya bisa menghadapinya dengan baik. 

Monday, May 27, 2019

Dialog

Ada seorang lelaki memakai kaos hitam dengan kemeja flannel abu-abu duduk sendiri dikursi pojok lantai 2, disalah satu cafe dipusat kota. Tatapannya tak berubah sejak awal dia mulai duduk.  Menatap kearah jalan raya,  seolah mengitung jumlah kendaran yang hadir, tatapannya kosong.  Seolah menunggu seseorang tapi tak kunjung hadir.

Entah kenapa,  dia seperti magnet,  pandangan saya tak mau beranjak darinya. Setelah beberapa lama mengamati. Saya memberanikan diri untuk duduk satu meja dengannya.

"Boleh saya duduk disini? "
"Silahkan". Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.

Saya sibuk mengaduk-aduk minuman yang saya pesan. Hampir 15memit. Tidak ada obrolan diantara kami.Tiba-tiba dia memecah hening.

"Kamu percaya time travel seperti yang dibuat tony stark? , rasanya menyenangkan bisa kembali kemasa lalu. "Ujarnya

"Pun kalau bisa kembali kemasa lalu, mereka bilang gak akan bisa memperbaiki masa depan. " jawabku.

"Setidaknya bisa memperbaiki masa lalu. " tambahnya.

"Saya juga masih berusaha keras berdamai dengan masa lalu, tapi saya gak yakin, kalo saya kembali ke masa lalu,  saya bisa memperbaiki semuanya.  Buat saya,  memperbaiki diri yang sekarang,  jauh lebih penting. Walau sepertinya menyenangkan kalau punya mesin waktu utk kembali kemasa yang menyenangkan" jawabku sambil menghela nafas.

Kali pertama pandangannya beralih kearah saya, tanpa ekpresi.

"Apa bagian paling menyenangkan dari hidupmu? " tanyanya

"Makan cheese cake,  sambil mendengarkan thank you for loving me-bonjovi."jawabku sambil tersenyum.

Dia mulai tersenyum sambil  membuang pandangannya ke jalan raya lagi.

"Kalau kamu? " tanyaku.

"Kamu." jawabnya sambil tersenyum.

 "Terimakasih sudah menjadi orang asing yang menyenangkan." ujarnya sambil meraih ransel dikursi, persis disebelahnya. Kemudian berlalu pergi.


"Hal paling menyenangkan dalam hidup saya adalah,  ketika tidak ada yang mengenal saya secara utuh."ujarku dalam hati.








Monday, December 31, 2018

Akhir

Aku suka desember,  dimana sebuah akhir yang membawa pada awalan baru.  Dimana semua harus ditinggal,  tanpa sesal. Aku suka desember, mampu mengakhiri sebuah rindu, namun menumbuhkan rasa ingin bertemu yang baru.

Aku suka desember,  dimana bisa kudengar kabar darinya yg terpisah jarak cukup lebar.  Aku suka desember,  melegakan aku yang kekhawatiran.

Desember 2018~

Terlalu Dini

Merindu terlalu pagi,  aku sakit terlalu dini.
Bukan aku tidak mau tinggal,  hanya saja kita terlalu janggal. 
Kamu sibuk memberi,  aku sibuk mencari. 
Kamu terlalu memikirkan,  aku selalu mengabaikan. 
Kamu suka riuh tawa,  kebersamaan. 
Aku terlalu mencintai kesunyian. 
Bukan aku tidak mau menetap,  rasanya kita memang belum siap. 
Andai kita bangun sedikit lebih siang,  mungkin aku bisa merasa takut hilang. 

Friday, October 5, 2018

Montessori


Apaan si montessori ?

Mari kita mulaidengan sejarah montessori
Montessori itu sebenernya nama seorang perempuan, Dr. Maria montessori, beliau adalah seorang pendidik, ilmuan dan dokter yang berkebangsaan Italia. Bisa dibilang kartini nya Italy. Karena pada saat itu, saat para perempuan italy yang ngejar pendidikan menengah lebih milih belajar di sekolah klasik,  beliau lebih milih sekolah teknis dengan tujuan jadi insiyur. Setelah lulus, orang tua montessori mendorong buat ngambil karir di dunia mengajar, tapi dia bertekad masuk sekolah kedokteran dan menjadi dokter, yang jelas-jelas di tentang sama bapaknya, karena waktu itu sekolah medis cuma buat para laki-laki. Montessori di tolak dari fakultas kedokteran, tapi akhirnya dibantuin sama pimpinan gereja katolik Roma, Paus Leo xiii, akhirnya mntessori terdaftar di universitas roma, dia jadi perempuan pertama yang masuk sekolah kedokteran di italia, tanggal 10 Juli 1896 menjadi wanita pertama yang lulus sebagai dokter di Italia, dan dengan perbedaan ini juga dia dikenal di seluruh negeri. Sometimes we need to be a different dan jadi beda itu bukan berarti salah. Kalo kata pandji pragiwaksono mah, sedkit lebih beda itu lebih baik, dari pada sedikit lebih baik.yuhu...

Nah, gimana metode montessori ini bisa terkenal diseluruh negara?

Awalnya metode montessori ini dipake buat ngelakuin penelitian dari perkembangan intelektual anak yang keterbelakangan mental. Montessori ngabisin 2 tahun bekerja di Sekolah Orthophrenic, bereksperimen dan menyempurin bahan yang dirancang oleh Itard dan Séguin. Setelah itu Montessori dapet kesempatan  bekerja bareng anak-anak normal dan ngebawa beberapa materi pendidikan yang dia kembangin.

Berita dari pendekatan baru Montessori nyebar dengan cepat. Dalam setahun bagian negara Swiss yang berbahasa Itali mulai mengubah taman kanak-kanak menjadi Casa dei Bambini ('Rumah Anak' yang didirikan Maria), dan penyebaran pendekatan pendidikan baru dimulai.

Pada musim panas 1909 Dr. Montessori memberikan kursus pelatihan pertama dengan pencapaian sekitar 100 siswa. Catatannya dari periode ini jadi buku pertamanya, yang diterbitin pada tahun yang sama di Italia, yang muncul dalam terjemahan di Amerika Serikat pada tahun 1912 sebagai The Montessori Method, mencapai tempat kedua dalam daftar nonfiksi terlaris AS. Setelah itu diterjemahin ke dalam 20 bahasa yang berbeda. Yang akhirnya jadi pengaruh besar di bidang pendidikan. Dan berkembang sampai saat ini. Keren kan...

Dari yang gua pahami tentang Montessori Method, sebenernya, metode ini digunakan supaya anak lebih berfikir kritis, mandiri, kreatif, dan bebas, tapi dalam pengawasan guru atau orang tua. Hal yang paling menarik perhatian gua pribadi adalah aspek kebebasan. Karena gua ngerasa masih banyak anak-anak dalam proses tumbuh kembangnya kurang mendapat ruang, dalam hal ini kebebasan kebagi jadi beberapa hal, 
  1. Kebebasan bergerak, anak diberi kebebasan untuk bergerak dan mengeksplore apa pun yang mereka mau ketahui, entah itu di dalam atau diluar ruangan.
  2. Kebebasan memilih, sejak lahir tiap manusia itu udah punya selera, jadi biarin anak memilih aktifitas yang mereka sukai, karena semua anak itu berprestasi di bidang yang  mereka sukai, jadi gak perlu memaksakan hal yang mereka gak suka,lebih baik memfasilitasi dan mendukung kegiatan yang mereka suka.
  3. Kebebasan berbicara, di metode montessori anak di berikan ruang buat mengasah sosial skill nya, bebas berbicara sama siapa aja yang mereka mau. Buat anak-anak yang belom siap, biasanya diarahin buat bergabung sama kelompok supaya terstimulus buat mulai berbagi. Biar nantinya  gak jadi ansos(anti sosial) kaya gue. huhu
  4. Kebebasan tumbuh, setiap anak berhak tumbuh dan mengembangkan mentalnya.
  5. Kebebasan menyayangi dan disayangi, orang tua, guru atau orang disekeliling wajib memberikan kasih sayang yang setara, engga ngebadingin satu dengan yang lainnya, dengan begitu anak akan belajar menyayangi dan menghargai lingkungan dengan cara yang sama.
  6. Kebebasan dari bahaya, artinya anak di arahkan untuk ngelakuin aktifitas dengan cara yang baik dan benar, supaya terhindar dari bahaya. Bukannya dilarang. misalnya, anak lari-larian, biasanya orang tua atau orang dewasa disekitarnya bakal langsung ngelarang, tapi seharusnya dikasih tahu akibat kalau dia lari-lari, gak hati-hati, bisa jatuh, kalau jatuh, sakit dan bisa luka, jadi lebih baik jalan aja. Gitu...!
  7. Kebebasan dari persaingan dan tekanan, biasanya perbandingan jadi salah satu hal yang dianggap sebagian orang bisa memicu anak buat ngelakuin hal yang lebih baik sesuai ekpsektasi orang tua. misal, anak lain udah bisa baca, biasanya orang tua yang anaknya belom bisa membaca bakal berusaha memotivasi anak tersebut dengan ngelakuin perbandingan atau dengan diiming-imingi reward. Kalau gak sesuai dengan ekpekasi orang dewasa, biasanya anak bakal dapat punichment.kalo di dunia montessori, gak ada persaingan, reward dan punichment, karena anak-anak dibiarkan ngelakuin aktifitas atas kemauannya sendiri. 
Sebenernya tanpa metode ini, udah seharusnya para orang tua membiarkan anaknya tumbuh dengan selayaknya, orang tua hanya sebagai pengarah, selebihnya anak-anak punya kebebasan dalam menentukan segala hal yang berkaitan sama aktifitas yang anak-anak mereka suka dan berhak atas pilihan hidupnya. Dengan adanya metode ini, bisa dibilang sebagai reminder para orang tua, tentang bagaimana seharusnya mendidik anak. Karena anak di ibaratin kaya tanaman yang baru tumbuh, kalo tumbuh di lingkungan yang baik, di kasih pupuk yang bagus, disiram setiap hari tanaman itu bakal grow up well. Sama kaya manusia. Karena jadi orang tua adalah profesi yang sangat gak gampag, karena harus belajar terus.
Sekarang udah banyak banget sekolah presschool yang mengadopsi metode ini, dan tuition sekolah berbasis motessori biasanya jauh lebih mahal.

Montessori method, ngajarin 5 hal utama, yaitu:
1.      Sensorial, di sekolah bermetode montessori, anak-anak diperkenalkan dengan mainan yang melatih indera, seperti bunyi (pendengaran), warna (pengelihatan), berbagai macam tekstur (peraba).
2.      Practical Life, anak-anak diajarin berbaga keterampialan, kaya pasang kaos kaki, sepatu, pakai dan lepas pakaian sendiri, menyiram tanaman, menuang air. Selain tujuannya biar mandiri, kegaitan tersebut juga  ngelatih anak supaya berfikir.
3.      Math, bukan berari balita disuruh ngerjain soal 4 log 64. Tapi diajarin buat mengenal bentuk, paham ukuran besar dan kecil, mengenal angka dan berhitung. Karena tanpa disadari anak-anak belajar angka dan berhitung biasanya dari lagu dan permainan.
4.      Language, kemampuan bahasa disini juga bukan berarti anak diajarin bilingual atau lebih, walau gak ada yang salah dengan penerapan dua bahasa atau lebih, tapi balik lagi, kemampuan tiap anak itu  beda-beda. Tapi di aspek ini, anak dikenalkan dengan huruf dan dilatih berkomunkasi dihadapan  banyak orang, misalnya diminta bercerita di depan kelas.
5.      Culture, anak-anak diajarkan tentang sopan santun, tata krama dan kebaikan. Diajarkan Antre, meminta maaf kalo ngelakuin kesalahan, diajarkan minta tolong kalo butuh bantuan, dan diajarkan  berterimakasih. Dan menurut gue salah satu kelemahan sistem pendidikan di indonesia adalah, karena lebih menekankan aspek akademis, dibanding budaya dan moralitas. Padahal selain IQ keberhasilan seseorang juga di tentuin dari EQ.

Dari hal-hal yang udah gua bahas, metode montessori itu gak hanya berlaku untuk disekolah tapi  juga bisa diterapin dirumah.
Untuk postingan selanjutnya gua bakal bahas soal aktifitas montessori rumahan. See yaawww...